2 HARI-HARI PELAYANAN
Di rumah nelayan di Kapernaum ibu mertua
Petrus terbaring akibat sakit "demam keras," dan "mereka segera
memberitahukan keadaannya kepada Yesus." "Yesus memegang tangan
perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya," dan ia bangkit dan melayani
Juruselamat dan murid-murid-Nya.1
Dengan cepat kabar ini pun menyebar.
Mukjizat itu telah dilakukan pada hari Sabat, dan karena takut kepada para rabi
orang banyak itu tidak berani datang untuk mendapat kesembuhan, sampai matahari
terbenam. Kemudian dari rumah-rumah, kedai-kedai, dan pasar-pasar, penduduk
kota itu berdesak-desakan masuk ke tempat tinggal sederhana yang menaungi
Yesus. Orang sakit digotong di atas usungan. Mereka datang dengan bertumpu pada
tongkat-tongkat, atau ditopang oleh sahabat-sahabat, tertatih-tatih lemah
mereka beringsut ke hadirat Juruselamat itu.
Dari jam ke jam orang-orang itu datang dan
pergi; karena tak seorang pun tahu apakah besok masih bisa menjumpai Penyembuh
itu di antara mereka. Tidak pernah sebelumnya Kapernaum menyaksikan satu hari
seperti itu. Udara dipenuhi dengan suara kemenangan dan sorak kelepasan.
Sampai penderita terakhir
disembuhkan barulah Yesus berhenti bekerja. Sudah larut malam pada waktu orang
banyak pulang dan keheningan kembali terasa di rumah Simon. Hari yang panjang
dan menggemparkan itu telah berlalu, dan Yesus pergi beristirahat. Namun sementara
kota itu diselubungi oleh kegelapan, Juruselamat itu "pagi-pagi benar,
waktu hari masih gelap," "Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di
sana."2
Pada pagi-pagi benar, Petrus dan
kawan-kawannya datang kepada Yesus,
mengatakan bahwa orang-orang Kapernaum sedang mencari Dia. Mereka terkejut
mendengar kata-kata Kristus, "Juga di kota-kota lain Aku harus
memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."3
Dalam kegemparan yang melanda Kapernaum
waktu itu ada bahaya bahwa tujuan-Nya bisa disalahpahami. Yesus tidak merasa
puas dengan menarik perhatian kepada diri-Nya semata-mata sebagai seorang yang
mengadakan perbuatan ajaib atau sebagai seorang penyembuh penyakit jasmani. Ia
berusaha untuk menarik manusia kepada-Nya sebagai Juruselamat mereka. Sementara
orang banyak ingin mempercayai bahwa Ia telah datang sebagai seorang raja untuk
mendirikan suatu pemerintahan duniawi, Ia rindu untuk mengalihkan pikiran
mereka dari perkara duniawi kepada hal rohani. Sukses duniawi saja akan mengganggu
pekerjaan-Nya.
Perasaan takjub orang
banyak yang keliru itu mengejutkan semangat-Nya. Tidak ada penonjolan diri
terjalin dengan kehidupan-Nya. Penghormatan yang dunia
berikan kepada kedudukan, kekayaan, atau bakat adalah sesuatu yang asing bagi
Anak Manusia. Tak satu pun cara yang digunakan oleh manusia untuk mendapatkan
kedudukan atau penghormatan yang digunakan oleh Yesus. Berabad-abad sebelum
kelahiran-Nya telah dinubuatkan tentang diri-Nya, "Ia tidak akan berteriak
atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suara-Nya di jalan. Bulu yang
patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak
akan dipadamkan-Nya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum."4
=================================================================
<MI>"Dan sama seperti Musa
meninggikan ular di
padang gurun, demikian juga Anak Manusia
harus
ditinggikan, supaya setiap orang yang
percaya
kepada-Nya beroleh hidup yang kekal."
"dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari
bumi,
Aku akan menarik semua orang datang
kepadaku."
"Tidak ada seorang pun yang dapat
datang kepada-Ku,
jika ia tidak ditarik oleh Bapa yang
mengutus Aku,
dan ia akan Ku-bangkitkan pada akhir
zaman."<MD>5
=================================================================
Orang Farisi mencari penghormatan dengan
upacara yang sangat teliti dan dengan tata cara kebaktian dan kedermawanan
mereka. Mereka membuktikan ketekunan terhadap agama dengan menjadikannya pokok
perbincangan. Perselisihan antar sekte yang menentang
nyaring dan berkepanjangan, dan tidak aneh kalau mendengar di jalan raya suara
perdebatan dengan nada tinggi dari para ahli taurat yang terdidik.
Perbedaan mencolok tampak
dalam kehidupan Yesus. Dalam hidup-Nya tidak ada keributan pertengkaran, tidak
ada perbaktian yang sok pamer, dan tidak ada tindakan untuk mencari pujian yang
pernah disaksikan. Kristus terselubung
di dalam Allah, dan Allah dinyatakan dalam tabiat Anak-Nya. Yesus menginginkan
agar pikiran manusia diarahkan kepada penyataan ini.
Matahari Kebenaran itu tidak bersinar dan
memancarkan cahaya ke atas dunia ini dengan kemegahan, atau membutakan
pandangan dengan kemuliaan-Nya. Ada tertulis mengenai Kristus begini: "Ia
pasti muncul seperti fajar."6 Dengan tenang dan dengan lembut fajar menyingsing
di atas bumi ini sambil mengusir kegelapan dan membangunkan dunia kepada
kehidupan. Begitulah terbitnya Matahari Kebenaran, dengan "kesembuhan pada
kepaknya."7
=================================================================
<MI>"Sekalipun aku dapat berkata-kata
dengan
semua bahasa manusia dan bahasa malaikat,
tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
aku sama dengan gong yang berkumandang
dan canang yang gemerincing.
Sekali pun aku mempunyai karunia untuk
bernubuat,
dan aku mengetahui segala rahasia
dan memiliki seluruh pengetahuan; dan
sekalipun aku memiliki iman yang sempurna
untuk memindahkan gunung,
tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
aku sama sekali tidak berguna. . . .
Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri
Ia tidak pemarah dan
tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan,
tetapi karena kebenaran."<MD>8
=================================================================
"Lihat,
itu hamba-Ku yang Kupegang,
orang pilihan-Ku,
yang kepadanya Aku berkenan."9
"Sebab Engkau
menjadi tempat pengungsian
bagi orang lemah,
tempat pengungsian
bagi orang miskin dalam kesesakannya,
perlindungan terhadap angin ribut,
naungan terhadap panas terik."10
"Beginilah firman Allah, Tuhan,
yang menciptakan langit
dan membentangkannya,
yang menghamparkan bumi dengan
segala yang tumbuh di atasnya,
yang memberikan napas kepada
umat manusia yang mendudukinya
dan nyawa kepada mereka
yang hidup di atasnya.
"Aku ini, Tuhan telah memanggil
engkau untuk penyelamatan,
telah memegang tanganmu;
Aku telah membentuk engkau
dan memberi engkau menjadi perjanjian
bagi umat manusia,
menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
untuk membuka mata yang buta,
untuk mengeluarkan orang hukuman
dari tempat tahanan
dan mengeluarkan orang-orang
yang duduk dalam gelap
dari rumah penjara."11
"Aku mau memimpin orang-orang buta
di jalan yang tidak mereka kenal,
dan mau membawa mereka berjalan
di jalan-jalan yang mereka tidak kenal.
Aku mau membuat kegelapan yang
di depan mereka menjadi terang
dan tanah yang berkeluk-keluk
menjadi tanah yang rata.
Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan
kepada mereka,
yang mereka,
yang pasti akan Kulaksanakan."12
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan
dan pujilah Dia dari ujung bumi!
Baiklah laut bergemuruh
serta segala isinya
dan pulau-pulau dengan segala penduduknya.
Baiklah padang gurun menyaringkan suara
dengan kota-kotanya dan dengan
desa-desa yang didiami Kedar!
Baiklah bersorak-sorai
penduduk Bukit Batu,
baiklah mereka berseru-seru
dari puncak gunung-gunung!
Baiklah mereka memberi penghormatan
kepada Tuhan
dan memberikan pujian
yang kepada-Nya di pulau-pulau."13
"Bersorak-sorailah, hai langit,
sebab Tuhan telah bertindak,
bertempiksoraklah, hai rahim bumi!
Bergembiralah dengan sorak-sorai,
hai gunung-gunung, hai hutan
serta segala pohon di dalamnya!
Sebab Tuhan telah menebus Yakub,
dan Ia telah memperlihatkan
keagungan-Nya dalam hal Israel."14
Dari penjara Herodes, di mana dalam keadaan
kecewa dan bingung tentang pekerjaan Juruselamat, Yohanes Pembaptis
memperhatikan dan menunggu, dia mengutus dua orang muridnya kepada Yesus dengan
pesan:
"Engkaukah yang datang itu, atau
haruskah kami menantikan orang lain?"15
Juruselamat tidak segera menjawab
pertanyaan murid itu. Sementara mereka berdiri keheranan karena Dia bungkam,
orang-orang sakit berdatangan kepada-Nya. Suara Penyembuh Perkasa itu telah
menembus telinga orang tuli. Sepatah kata, suatu sentuhan tangan-Nya, telah
membuka mata orang yang buta untuk memandang terang siang hari, pemandangan
alam, wajah teman dan wajah Penyelamat itu. Suara-Nya menjangkau telinga orang
yang sedang sekarat, dan mereka bangkit dalam kesehatan dan kekuatan. Orang
yang dilumpuhkan oleh kuasa Setan menuruti kata-kata-Nya, kegilaan meninggalkan
mereka, dan mereka menyembah Dia. Para petani miskin dan buruh, yang dikucilkan
para guru Yahudi sebagai najis, berkumpul di sekeliling-Nya, dan Dia berbicara
kepada mereka tentang firman hidup kekal.
Begitulah hari itu berlalu, murid-murid
Yohanes melihat dan mendengar semua itu. Akhirnya Yesus memanggil mereka supaya
mendekat kepada-Nya, dan menyuruh mereka pergi dan memberitahukan kepada
Yohanes apa yang mereka telah lihat dan dengar, lalu menambahkan: "Dan
berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku."16 Murid-murid itu menyampaikan pesan tersebut,
dan itu sudah cukup.
Yohanes mengingat nubuatan tentang Mesias,
"Tuhan telah mengurapi Aku; Ia telah mengutus Aku untuk menyampaikan kabar
baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati,
untuk memberitahukan pembebasan bagi orang-orang tawanan, dan kepada
orang-orang yang terkurung kelepasan di penjara, untuk memberitahukan tahun
rahmat Tuhan . . . dan untuk menghibur semua orang berkabung."17 Yesus
orang Nazaret adalah Dia yang dijanjikan. Bukti keilahian-Nya telah disaksikan
dalam pelayanan-Nya bagi umat manusia yang miskin dan menderita. Kemuliaan-Nya
telah terlihat dalam sikap yang merendahkan diri sederajat dengan kita.
=================================================================
<MI>"Berbahagialah orang yang
tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang
berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi kesukaannya
ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti
pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada
musimnya, dan yang tidak layu daunnya;
apa saja yang diperbuatnya berhasil."<MD>18
=================================================================
Pekerjaan Kristus tidak hanya menyatakan
bahwa Ia adalah Mesias, tetapi menunjukkan bagaimana kerajaan yang akan
didirikan-Nya. Kebenaran yang sama telah terbuka bagi Yohanes seperti yang
datang kepada Elia di padang belantara, ketika "angin besar dan kuat, yang
membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului Tuhan. Tetapi
tidak ada Tuhan dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi
tidak ada Tuhan dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu, datanglah api. Tetapi
tidak ada Tuhan dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin
sepoi-sepoi basa."19 Begitulah Yesus melakukan pekerjaan-Nya, bukan dengan
menjungkirbalikkan takhta dan kerajaan, bukan dengan kesombongan dan peragaan
lahiriah, tetapi dengan berbicara ke dalam hati orang dan dengan suatu
kehidupan kemurahan dan pengorbanan diri.
Kerajaan Allah muncul bukan dengan peragaan
lahiriah. Kerajaan itu terbentuk melalui kelemahlembutan ilham firman-Nya,
melalui pekerjaan Roh Kudus di dalam hati, persekutuan jiwa dengan Dia yang
menjadi hidupnya. Penyataan terbesar akan kuasa-Nya dilihat dalam diri manusia
yang menyempurnakan tabiatnya seperti tabiat Kristus.
Para pengikut Kristus seharusnya menjadi
terang dunia; tetapi Allah tidak menyuruh mereka supaya berusaha memancarkan
sinar. Ia tidak merestui usaha yang hanya untuk memuaskan diri dengan
memamerkan kebaikan yang luar biasa. Ia ingin agar jiwa mereka dipengaruhi oleh
prinsip surgawi; kemudian sementara mereka berhubungan dengan dunia ini, mereka
akan menyatakan terang ajaib yang ada pada dirinya. Kesetiaan mereka yang ketat
dalam setiap tindakan hidup akan menjadi saluran terang.
Kekayaan atau kedudukan
tinggi, peralatan yang mahal-mahal, bangunan atau perabotan, tidaklah perlu
bagi kemajuan pekerjaan Allah; begitu juga prestasi
yang mendapat pujian dari manusia yang hanya menimbulkan kesombongan. Peragaan
secara duniawi, betapa pun mengesankan, tidaklah bernilai dalam pemandangan
Allah. Lebih dari apa yang kelihatan dan bersifat fana, Ia menilai yang tidak
kelihatan dan kekal. Hal yang pertama hanya berharga kalau itu menyatakan yang
terakhir. Karya seni yang paling tinggi mutunya tidak memiliki keindahan yang
dapat dibandingkan dengan keindahan tabiat, yaitu hasil dari pekerjaan Roh
Kudus di dalam jiwa.
Ketika Allah memberikan Anak-Nya kepada
dunia ini, Ia memberkati umat manusia dengan kekayaan yang kekal, yaitu
kekayaan yang tak dapat dibandingkan dengan kekayaan dunia yang paling berharga
tetapi tidak berarti. Kristus datang ke dunia ini dan berdiri di hadapan
anak-anak manusia dengan kasih akan kekekalan yang melimpah, dan inilah harta
yang kita akan terima, nyatakan dan bagikan melalui hubungan kita dengan Dia.
Usaha manusia menjadi berdayaguna dalam
pekerjaan Allah tergantung kepada pengabdian yang sungguh-sungguh dari pekerja
itu sendiri, yaitu dengan menyatakan kuasa karunia Kristus untuk mengubah
kehidupan. Kita dibedakan dari dunia ini karena Allah telah memeteraikan kita,
karena Ia menyatakan di dalam diri kita tabiat-Nya yang penuh kasih. Penebus
menyalut diri kita dengan
kebenaran-Nya.
Dalam memilih pria dan
wanita untuk pekerjaan-Nya, Allah tidak bertanya apakah mereka memiliki
kekayaan dunia, pengetahuan atau wibawa.
Dia bertanya: "Apakah mereka berjalan dengan rendah hati sehingga Aku
dapat mengajarkan jalan-Ku kepada mereka? Dapatkah Aku menaruh perkataan-Ku di
bibir mereka? Apakah mereka akan mewakili Aku?"
Allah dapat menggunakan setiap orang persis
sebagaimana Ia dapat menempatkan Roh-Nya ke dalam jiwa raganya. Perbuatan yang
akan diterima-Nya adalah perbuatan yang memantulkan citra-Nya. Sebagai utusan
kepercayaan bagi dunia ini, para pengikut-Nya harus menyandang sifat-sifat dari
prinsip-Nya yang kekal yang tak terhapuskan.
<UD>"Ia Akan Merangkul
Domba-domba Dengan Lengan-Nya"<D>
Selagi Yesus melayani di jalan-jalan raya
di kota-kota, ibu-ibu menyusup ke dalam kerumunan orang sambil menggendong
anak-anak mereka yang sedang sakit dan sekarat, berusaha untuk mendekat agar
mendapat perhatian-Nya.
Perhatikanlah ibu-ibu ini, muka pucat,
lelah, hampir putus asa, namun dengan hati teguh dan sabar. Sambil menanggung
beban penderitaan mereka mencari Juruselamat. Sementara mereka menerobos
kerumunan yang padat itu, selangkah demi selangkah Kristus menghampiri mereka
sampai Ia sudah berada dekat di samping mereka. Pengharapan terbit di hati
mereka. Air mata kegembiraan menetes manakala mereka mendapat perhatian-Nya,
dan memandang tajam sambil menyatakan rasa iba dan kasih.
Memanggil salah seorang dari kelompok
ibu-ibu itu, Juruselamat meyakinkannya sambil berkata: "Apa yang akan Aku
lakukan untuk menolongmu?" Lalu ibu itu menyatakan keinginannya sambil
menangis, "Tuhan, kiranya Engkau mau menyembuhkan anakku." Yesus
membopong anak kecil itu di lengan-Nya, penyakitnya lenyap oleh jamahan-Nya.
Kengerian akan maut itu sudah hilang; arus yang menyembuhkan mengalir dalam
pembuluh darahnya; otot-otot kembali mendapat kekuatan. Kata-kata penghiburan
yang penuh damai diucapkan kepada ibu itu; kemudian pasien lain yang sama
gawatnya disodorkan. Sekali lagi Kristus menggunakan kuasa-Nya untuk memberi
kehidupan, dan semua orang memuji dan menghormati Dia yang melakukan mukjizat
itu.
Kita memikirkan banyak tentang keagungan
hidup Kristus. Kita membicarakan tentang perkara-perkara ajaib yang telah
dilakukan-Nya, tentang berbagai mukjizat yang telah diadakan-Nya. Tetapi
perhatian-Nya terhadap perkara-perkara yang dianggap sepele malah membuktikan
kebesaran-Nya yang lebih tinggi.
Ada kebiasaan di kalangan orang Yahudi
untuk membawa anak-anak kepada rabi agar dia menumpangkan tangannya dan
memberkatinya. Tetapi murid-murid berpendapat bahwa pekerjaan Juruselamat
terlalu penting untuk diganggu hal seperti ini. Ketika para ibu datang membawa
anak-anak mereka yang masih kecil kepada-Nya untuk diberkati, murid-murid
merasa tidak senang. Mereka menganggap anak-anak itu terlalu kecil untuk
mendapat manfaat dengan mengunjungi Yesus, dan menarik kesimpulan bahwa tentu
Dia merasa tidak suka akan kehadiran anak-anak itu. Tetapi Juruselamat memahami
perhatian dan beban para ibu itu yang berusaha melatih anak-anak mereka sesuai
dengan firman Allah. Ia telah mendengar doa mereka. Ia sendiri telah menarik
mereka ke dalam hadirat-Nya.
Seorang ibu bersama anaknya meninggalkan
rumah lalu mencari Yesus. Di jalan dia memberitahukan maksudnya kepada
tetangga, dan tetangga itu ingin juga agar Yesus memberkati anak-anaknya.
Dengan demikian beberapa orang ibu berkumpul di sini bersama anak-anak mereka
yang masih kecil-kecil. Sebagian anak-anak itu telah melewati masa bayi dan
sekarang menjadi kanak-kanak dan remaja. Ketika para ibu itu menyampaikan
keinginan mereka kepada-Nya, Yesus mendengarkan dengan rasa simpati permohonan
yang disertai perasaan was-was dan mengiba. Tetapi Ia menunggu bagaimana
murid-murid itu akan memperlakukan mereka. Ketika Ia melihat murid-murid
menegur ibu-ibu itu dan mengusir mereka, seakan-akan mau menolong-Nya, Ia
menunjukkan kesalahan mereka sambil berkata, "Biarkan anak-anak itu datang
kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah
yang empunya Kerajaan Allah."20 Ia menggendong anak-anak itu, meletakkan tangan-Nya di atas
mereka, dan memberkati sesuai dengan maksud kedatangan mereka.
Ibu-ibu itu merasa terhibur. Mereka kembali
ke rumah masing-masing dengan perasaan dikuatkan dan diberkati oleh kata-kata
Kristus. Mereka dikuatkan untuk memikul beban dengan
keceriaan yang baru dan bekerja bagi anak-anaknya dengan penuh pengharapan.
Sekiranya masa depan kelompok kecil itu
terungkap di hadapan kita, maka kita dapat melihat para ibu itu mengingatkan
anak-anak mereka tentang peristiwa pada hari itu dan mengulangi kata-kata
Juruselamat kepada mereka. Kita dapat melihat juga pada tahun-tahun berikutnya,
betapa sering anak-anak itu terhindar dari kesesatan pada jalan yang
dibentangkan di hadapan umat tebusan Tuhan, karena mengingat perkataan itu.
Sekarang ini Kristus adalah Juruselamat
yang belas kasihan-Nya sama seperti waktu Ia berjalan di antara manusia. Dia
suka menolong ibu-ibu pada zaman ini seperti ketika Ia mengumpulkan anak-anak
mereka di Yudea dan memeluknya. Anak-anak buah hati kita ditebus dengan
darah-Nya seperti anak-anak zaman dulu.
Yesus mengetahui beban hati setiap ibu. Ia
yang mempunyai seorang ibu yang bergumul dalam kemiskinan dan kesendirian akan
merasa simpati terhadap setiap ibu dalam pekerjaannya. Ia yang telah berjalan
jauh untuk membebaskan wanita Kanaan dari beban hatinya akan berbuat demikian
pula bagi ibu-ibu zaman ini. Ia yang telah memulihkan anak tunggal kepada
seorang janda di Nain itu, dan dalam penderitaan di kayu salib mengenang
ibu-Nya sendiri, terjamah oleh penderitaan para ibu. Dalam setiap kesusahan dan
kebutuhan, Ia menghibur dan menolong mereka.
Biarlah semua ibu datang kepada Yesus
membawa kecemasan mereka. Mereka akan mendapat kemurahan yang cukup untuk
membantu mereka mengasuh anak-anak. Gerbang terbuka bagi setiap ibu yang mau
meletakkan bebannya di kaki Yesus. Ia yang telah mengatakan, "Biarkanlah
anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan menghalang-halangi mereka,"21
masih mengundang para ibu untuk membawa anak-anak kecil mereka untuk
diberkati-Nya.
Dalam diri anak-anak yang
telah dibawa kepada-Nya, Yesus melihat pria dan wanita dewasa yang akan
mewarisi-Nya rahmat-Nya dan menjadi warga kerajaan-Nya, dan sebagian akan mati
syahid bagi Dia. Ia tahu bahwa anak-anak ini akan
mendengarkan-Nya dan menerima-Nya sebagai Penebus, jauh lebih siap ketimbang
orang dewasa yang kebanyakan di antaranya pintar secara duniawi dan keras hati.
Dalam mengajar Ia turun menjadi setara dengan mereka. Ia yang adalah Raja surga
menjawab pertanyaan mereka dan menyederhanakan pelajaran-Nya yang penting agar
dimengerti oleh pikiran mereka yang masih kanak-kanak. Ia menanamkan benih
kebenaran di dalam hati mereka, yang setelah bertahun-tahun akan bertumbuh dan
berbuah sampai kepada hidup yang kekal.
Ketika Yesus menyuruh murid-murid supaya
tidak menghalang-halangi anak-anak itu datang kepada-Nya, Ia juga berbicara
kepada para pengikut-Nya sepanjang zaman -- yaitu kepada para pimpinan gereja,
pendeta, pembantu, dan semua orang Kristen. Yesus menarik anak-anak itu, dan Ia
berkata kepada kita, "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku;" seakan-akan Ia berkata, Mereka akan datang, kalau engkau
tidak menghalang-halangi mereka.
Janganlah tabiatmu yang
tidak menyerupai tabiat Kristus itu salah menyatakan Yesus. Jangan menjauhkan
anak-anak itu dari pada-Nya dengan kekakuan dan kekasaranmu. Jangan pernah membuat sampai mereka merasa
bahwa surga itu bukanlah sebuah tempat yang menyenangkan bagi mereka, kalau
engkau ada di situ. Janganlah membicarakan agama seperti sesuatu yang tidak
dapat dipahami oleh anak-anak, atau berlaku seakan-akan mereka tidak diharapkan
untuk menerima Kristus karena masih kanak-kanak. Jangan memberi kesan palsu kepada mereka bahwa
agama Kristus adalah agama yang gelap, bahwa untuk mendekati Yesus mereka harus
membuang segala sesuatu yang menggembirakan hidup.
Sementara Roh Kudus bekerja di dalam hati
anak-anak itu, bekerjasamalah dalam pekerjaan-Nya. Ajarlah mereka bahwa
Juruselamat memanggil mereka, bahwa tidak ada yang lebih menggembirakan
bagi-Nya daripada mereka menyerahkan diri kepada-Nya pada masa
bertumbuh-kembang dan masih segar.
<UD>Tanggungjawab Orangtua<D>
Dengan kelemahlembutan abadi Juruselamat
menghargai jiwa-jiwa yang telah
dibeli-Nya dengan darah-Nya. Mereka adalah tuntutan kasih-Nya. Ia memandang
mereka dengan rasa rindu yang tak terkatakan. Hati-Nya tertarik bukan saja
kepada anak-anak yang paling pintar dan paling menarik, tetapi juga kepada
mereka yang karena pembawaan dan kelalaian memiliki ciri-ciri tabiat yang tidak
disukai. Banyak orangtua tidak memahami betapa besar tanggungjawabnya terhadap
tabiat seperti ini dalam diri anak-anak mereka. Mereka tidak memiliki
kelemahlembutan dan akal budi untuk menangani anak-anak yang bersalah yang
sebenarnya mereka sendirilah yang membuatnya begitu. Tetapi Yesus memandang
anak-anak ini dengan rasa iba. Ia menelusuri dari sebab kepada akibat.
Pekerja Kristen bisa menjadi agen Kristus
untuk menarik anak-anak bersalah dan banyak kekeliruan ini kepada Juruselamat.
Dengan akal budi dan kecakapan dia dapat mempertautkan mereka kepada hatinya,
dia dapat memberikan semangat dan pengharapan, dan dengan rahmat Kristus dapat
menyaksikan mereka berubah dalam tabiat, supaya genaplah perkataan,
"Karena merekalah yang empunya kerajaan Allah."
<UD>Lima Potong Roti Mengenyangkan
Orang Banyak<D>
Setiap hari orang-orang mengerumuni Kristus
bersama murid-murid-Nya sewaktu mengajar di pinggir pantai. Mereka telah
mendengar kata-kata-Nya yang lembut itu, begitu sederhana dan begitu jelas
seperti balsem Gilead bagi jiwa mereka. Penyembuhan oleh tangan ilahi-Nya telah
membawa kesehatan bagi orang sakit dan kehidupan bagi yang sekarat. Hari itu
nampaknya bagaikan surga di dunia bagi mereka, dan mereka tidak sadar sudah
berapa lama mereka tidak makan apa-apa.
Matahari terbenam di ufuk Barat, namun
orang banyak itu tidak mau beranjak pergi. Akhirnya murid-murid datang kepada
Kristus, membujuk-Nya demi kepentingan mereka, agar orang banyak itu disuruh
pulang. Banyak yang datang dari jauh dan tidak makan apa-apa sejak pagi hari.
Mereka mungkin dapat memperoleh makanan di kampung-kampung dan kota terdekat.
Tetapi Yesus memerintahkan: "Kamu harus memberi mereka makan."22 Kemudian, Ia bertanya kepada Filipus, "Di manakah kita akan membeli
roti supaya mereka ini dapat makan?"
Filipus memandangi lautan manusia dan
berpikir betapa tidak mungkin menyediakan makanan untuk orang sebanyak itu. Dia
menjawab bahwa roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk semua
mereka, sekalipun masing-masing hanya mendapat sepotong kecil saja.
Yesus bertanya berapa banyak makanan yang
ada di tangan orang banyak itu. Andreas berseru, "Di sini ada seorang
anak, yang mempunyai lima roti dan dua ikan, tetapi apakah artinya itu untuk
orang sebanyak ini?"23 Yesus menyuruh supaya itu dibawa kepada-Nya. Lalu
Ia menyuruh murid-murid mengatur orang banyak itu duduk di atas rumput. Setelah
semuanya selesai, Ia mengambil makanan itu, "Yesus menengadah ke langit
dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada
murid-murid, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan
mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan
potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh."24
Dengan mukjizat kuasa ilahi Kristus memberi
makan orang banyak; namun betapa sederhana makanan yang telah disediakan itu,
hanya ikan dan roti sebagaimana makanan nelayan di Galilea.
Kristus bisa saja menghidangkan makanan
pesta di hadapan orang banyak itu, tetapi makanan yang hanya memuaskan selera
tidak dapat memberi pelajaran demi kebaikan mereka. Melalui mukjizat ini
Kristus ingin mengajarkan satu pelajaran tentang kesederhanaan. Kalau saja
manusia zaman ini sederhana dalam kebiasaan mereka, hidup sesuai dengan hukum
alam, sebagaimana Adam dan Hawa pada mulanya, maka akan berlimpah persediaan
makanan untuk kebutuhan umat manusia. Tetapi sifat mementingkan diri dan
pemanjaan selera telah membawa dosa dan penderitaan; berlebihan di tangan satu
orang, tetapi di tangan orang lain berkekurangan.
Yesus tidak berusaha menarik orang
kepada-Nya dengan memuaskan keinginan akan kemewahan. Bagi orang banyak itu,
yang sudah letih dan lapar setelah satu hari penuh semangat, makanan sederhana
itu adalah jaminan kuasa dan pemeliharaan-Nya bagi mereka dalam kebutuhan
sehari-hari. Juruselamat tidak menjanjikan kemewahan dunia kepada para
pengikut-Nya, nasib mereka mungkin terbelenggu dalam kemiskinan; tetapi
perkataan-Nya menjanjikan bahwa kebutuhan mereka akan dicukupkan, dan Ia telah
menjanjikan apa yang lebih baik dari harta benda dunia ini, yaitu penghiburan
senantiasa dari hadirat-Nya sendiri.
=================================================================
<MI>"Sebab itu janganlah kami
makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Akan tetapi
Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah
dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan
kepadamu."<MD>25
=================================================================
Sesudah orang banyak itu diberi makan,
ternyata banyak makanan tersisa. Yesus menyuruh murid-murid-Nya,
"Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang
terbuang."26 Petunjuk ini berarti lebih dari pada menaruh makanan ke dalam
bakul. Pelajaran itu bermaksud ganda. Tidak ada yang boleh dibuang. Kita tidak
boleh membiarkan keuntungan materi terbuang. Seharusnya kita tidak mengabaikan
sesuatu yang bermanfaat kepada umat manusia. Hendaknya dikumpulkan segala
sesuatu yang akan memenuhi kebutuhan orang-orang di dunia ini yang kelaparan.
Dengan ketelitian yang sama kita harus menyimpan roti surga untuk memenuhi
kebutuhan jiwa. Dengan setiap perkataan Allah kita akan hidup. Jangan ada yang
hilang dari apa yang pernah diucapkan Allah. Janganlah kita mengabaikan satu
kata pun yang menyangkut keselamatan kita yang kekal. Tidak boleh ada satu kata
yang jatuh ke tanah dengan sia-sia.
Mukjizat potongan-potongan roti itu
mengajarkan ketergantungan kepada Allah. Pada waktu Kristus memberi makan lima
ribu orang, makanan itu tidak berada dekat di tangan. Seolah-olah Ia tidak
mempunyai apa-apa di tangan-Nya. Di situlah Dia, dengan lima ribu orang
laki-laki saja, belum terhitung wanita dan anak-anak, di padang belantara. Ia
tidak mengajak orang banyak itu supaya mengikuti-Nya ke sana. Karena rindu
untuk berada di dekat-Nya maka orang banyak itu telah datang tanpa diundang
atau disuruh. Tetapi Ia tahu, setelah mendengar pengajaran-Nya seharian, tentu
mereka kelaparan dan kelelahan. Mereka berada jauh dari rumah, dan malam sudah
tiba. Banyak di antara mereka tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Ia yang pernah
puasa selama empat puluh hari demi mereka di padang belantara itu tidak akan
membiarkan mereka kembali ke rumah masing-masing dengan berpuasa.
Tuntunan Allah yang telah membawa Yesus di
mana Ia berada, dan Ia bergantung kepada Bapa-Nya yang di surga untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Bilamana kita dibawa ke tempat yang sukar, kita harus
bergantung kepada Allah. Dalam setiap keadaan darurat, kita mencari pertolongan
dari Dia yang memiliki sumber yang tak terbatas dalam kekuasaan-Nya.
Dalam mukjizat ini, Kristus menerima dari
Bapa-Nya; Ia membagikannya kepada murid-murid itu, dan murid-murid membagikan
kepada orang banyak, dan orang banyak kepada satu dengan yang lain. Jadi semua
yang dipersatukan dengan Kristus akan menerima dari Dia roti hidup, dan
membagikannya kepada orang lain. Murid-murid-Nya adalah sarana komunikasi
terpilih antara Kristus dan orang banyak.
Ketika murid-murid itu mendengar perintah
Juruselamat, "Kamu harus memberi mereka makan," segala kesulitan
timbul dalam pikiran mereka. Mereka bertanya-tanya, "Apakah kita akan
pergi ke kampung untuk membeli makanan?" Tetapi apa yang dikatakan
Kristus? "Kamu harus memberi mereka makan." Murid-murid membawa
kepada Yesus apa saja yang mereka miliki; tetapi Ia tidak mengundang mereka
untuk makan. Ia menyuruh mereka melayani orang banyak. Makanan itu berlipat-ganda
di tangan-Nya dan di tangan murid-murid-Nya, kembali kepada Kristus dan tidak
pernah kosong. Persediaan yang sedikit itu cukup untuk semua. Setelah orang
banyak itu kenyang, barulah murid-murid makan bersama Yesus makanan lezat dari
surga.
Sementara kita melihat kebutuhan orang
miskin, yang bodoh, yang tersiksa, betapa sering hati kita terharu. Kita
bertanya, "Apakah yang bisa dibuat oleh tenaga kita yang lemah dan
persediaan kita yang sedikit untuk menutupi kebutuhan sebesar ini? Apakah kita
tidak menunggu seseorang yang mempunyai kesanggupan yang lebih besar untuk
mengatur pekerjaan itu, atau suatu organisasi untuk mengambil alih tugas
itu?" Kristus mengatakan, "Kamu harus memberi mereka makan." Gunakanlah sarana,
waktu dan kesanggupan yang engkau miliki. Bawalah rotimu itu kepada Yesus.
Sekalipun persediaanmu tidak cukup untuk
memberi makan ribuan orang, mungkin itu cukup untuk satu orang. Di tangan
Kristus, persediaan bahan itu dapat memberi makan banyak orang. Seperti
murid-murid, berikanlah apa yang ada padamu. Kristus akan melipatgandakannya. Ia akan
menghormati ketergantungan yang lugu dan tulus kepada-Nya. Apa yang
nampaknya satu persediaan yang sedikit akan terbukti cukup untuk pesta besar.
"Orang yang menabur sedikit, akan
menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. .
. .
"Dan Allah sanggup melimpahkan segala
kasih karunia kepadamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala
sesuatu malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan, seperti ada tertulis:
"Ia membagi-bagikan,
Ia memberikan kepada orang miskin,
Kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.
"Ia yang menyediakan benih bagi
penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu
dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan
dipercaya dalam segala macam kemurahan hati."27

No comments:
Post a Comment
Mohon Tinggalkan komentar saran, kritik, tambahan dan tanggapan anda, sebelum anda keluar dari blog ini dan terima kasih anda telah berkunjung.