3 DENGAN
ALAM DAN DENGAN ALLAH
Kehidupan Juruselamat di dunia adalah suatu
kehidupan yang berhubungan dengan alam dan dengan Allah. Dalam hubungan ini Ia
menampakkan kepada kita rahasia suatu kehidupan penuh kuasa.
Yesus adalah seorang
pekerja yang tekun dan konstan. Tidak pernah ada manusia seperti Dia yang
begitu dibebani dengan tanggungjawab yang amat berat. Tak pernah ada seorang
yang memikul beban duka cita dan dosa dunia yang begitu berat. Tidak pernah
seorang bekerja dengan semangat yang begitu menyita tenaga demi kebaikan
manusia. Namun hidup-Nya selalu sehat.
Baik secara fisik maupun rohani Ia digambarkan sebagai anak domba korban
"yang tak bernoda dan tak bercacat."1 Dari segi tubuh dan jiwa Ia
adalah suatu teladan dari apa yang Allah rencanakan bagi semua manusia yang
berjalan melalui penurutan akan hukum-hukum-Nya.
Pada waktu orang banyak memandang kepada
Yesus, mereka melihat suatu wajah yang di dalamnya terpadu belas kasihan ilahi
dengan kuasa yang nyata. Nampaknya Ia dikelilingi dengan suatu suasana
kehidupan rohani. Sementara perilaku-Nya lembut dan tak memamerkan diri, Ia
mengesankan manusia dengan suatu kuasa tak terlihat, namun tidak dapat
sepenuhnya disembunyikan.
Selama pelayanan-Nya Ia terus-menerus diburu oleh orang-orang
yang licik dan munafik yang berusaha merenggut nyawa-Nya. Mata-mata mengikuti jejak-Nya, menyimak kata-kata-Nya, untuk
mencari-cari kesalahan melawan Dia. Orang-orang yang paling pintar dan paling
berbudaya dari bangsa itu berusaha untuk mengalahkan-Nya dalam perdebatan,
namun mereka tak pernah menang. Mereka terpaksa mundur dari medan laga,
terperangah dan dipermalukan oleh Guru yang sederhana dari Galilea itu. Pengajaran Kristus
memiliki suatu kesegaran dan suatu kuasa yang tak pernah dikenal oleh manusia
sebelumnya. Bahkan musuh-musuh-Nya pun dipaksa untuk mengaku, "Belum
pernah seorang manusia berkata seperti orang itu."2
Masa kanak-kanak Yesus, yang dilewatkan
dalam kemiskinan, tidak pernah dirusak oleh kebiasaan-kebiasaan palsu dari
suatu zaman yang bobrok. Bekerja di bangku pertukangan kayu, memikul beban
kehidupan rumahtangga, belajar menurut dan bekerja, Ia menemukan rekreasi di tengah-tengah alam, mengumpulkan pengetahuan saat Ia mencari pemahaman
rahasia-rahasia alam. Ia belajar firman Allah
dan waktu-Nya yang paling membahagiakan didapat pada waktu Ia dia bisa
meninggalkan pekerjaan-Nya dan pergi ke ladang-ladang, merenung di
tempat-tempat yang sunyi, menjalin hubungan dengan Allah di kaki gunung atau di
tengah-tengah pepohonan di hutan. Sering pada pagi buta Ia ditemukan berada di
tempat yang terasing, merenung, menyelidik Kitab Suci, atau sedang berdoa.
Dengan nyanyian Ia menyambut sinar fajar. Dengan lagu-lagu ucapan syukur Ia
memeriahkan jam-jam kerja-Nya dan membawa kegembiraan surga kepada orang-orang
yang letih dan putus asa.
Semasa pelayanan-Nya Yesus lebih banyak berada di luar rumah. Perjalanan-Nya dari satu tempat ke tempat yang lain ditempuh-Nya
dengan berjalan kaki, dan kebanyakan pengajaran-Nya disampaikan di alam
terbuka. Dalam melatih murid-murid-Nya seringkali Ia menarik diri dari
hiruk-pikuk kehidupan kota menuju ke ladang-ladang yang sunyi, yang lebih
selaras dengan pelajaran kesederhanaan, iman, dan penyangkalan diri yang Ia
rindu ajarkan kepada mereka. Adalah di bawah naungan pepohonan di kaki bukit,
tidak jauh dari Laut Galilea, kedua belas murid itu dipanggil dalam tugas
kerasulan dan Khotbah di atas bukit itu disampaikan.
Kristus suka mengumpulkan orang banyak di
sekeliling-Nya di bawah langit biru, di kaki bukit yang berumput, atau di
tepian danau. Di sini, dikelilingi oleh karya ciptaan-Nya sendiri, Ia dapat
memalingkan pemikiran dari yang tiruan kepada yang bersifat alami. Dalam
pertumbuhan dan perkembangan alam dinyatakan prinsip-prinsip kerajaan-Nya.
Manusia harus mengangkat pandangan mereka ke bukit-bukit Allah dan memandang
karya-karya ajaib dari tangan-Nya. Mereka dapat mempelajari pelajaran kebenaran
ilahi yang berharga. Di kemudian hari, semua pelajaran dari Guru Ilahi itu akan
teringat kepada mereka melalui benda-benda alam. Pikiran akan ditinggikan dan
hati akan menemukan perhentian.
Murid-murid yang menemani Dia dalam
pekerjaan-Nya, seringkali dibebaskan untuk beberapa waktu oleh Yesus, agar
mereka boleh mengunjungi rumah mereka dan beristirahat; namun sia-sia usaha
mereka untuk menghentikan Dia dari pekerjaan-Nya. Sehari-harian Ia melayani
orang banyak yang datang berkerumun kepada-Nya, dan di
senja hari, atau di pagi buta, Ia pergi ke kaabah pegunungan untuk berhubungan
dengan Bapa-Nya.
Seringkali dalam pekerjaan-Nya yang tak ada henti-hentinya
itu dan pertentangan dengan pengajaran palsu dan bermusuhan dari para rabi
membuat Ia begitu letih sehingga ibu dan saudara-saudara-Nya, bahkan
murid-murid-Nya, takut bahwa hidup-Nya akan menjadi korban. Namun pada saat Ia
kembali dari jam-jam permintaan doa yang mengakhiri hari kerja yang melelahkan,
mereka melihat pandangan kedamaian di wajah-Nya, kesegaran dan kegairahan serta
kuasa yang nampak mengisi seluruh badan-Nya. Dari jam-jam yang digunakan
sendirian bersama Allah Ia muncul, dari pagi ke pagi, untuk membawa terang
surga kepada mereka.
Baru saja kembali dari perjalanan
penginjilan mereka yang pertama Yesus mengajak murid-murid-Nya, "Mari
mengasingkan diri dan beristirahat sejenak." Murid-murid telah kembali,
penuh dengan kesukaan atas kesuksesan mereka sebagai pemberita-pemberita Injil,
ketika mereka mendengar kabar tentang kematian Yohanes Pembaptis di tangan
Herodes. Itu merupakan suatu dukacita dan kekecewaan yang pahit. Yesus tahu bahwa
dengan meninggalkan sang Pembaptis mati di penjara, Ia telah menguji iman
murid-murid itu secara keras. Dengan kelemahlembutan yang penuh belas kasihan
Ia memandang wajah-wajah mereka yang berduka dan berhias airmata. Di mata-Nya
sendiri, dan dalam nada suara-Nya, airmata itu ada ketika Ia berkata,
"Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah
seketika!"3
Di Betsaida, di ujung utara Laut Galilea,
ada satu daerah sepi yang elok dengan kesegaran musim semi nan menghijau, yang menyajikan
sambutan penyegaran bagi Yesus dan murid-murid-Nya. Ke tempat inilah mereka
pergi berperahu menyeberangi danau itu. Di sini mereka dapat beristirahat, jauh
dari hiruk-pikuknya kerumunan orang banyak. Di sini para murid itu mendengar
kata-kata Kristus, tanpa diganggu oleh kata-kata pedas dan tuduhan orang-orang
Farisi. Di sini mereka berharap akan menikmati satu waktu yang singkat untuk
bercengkerama dalam persekutuan dengan Tuhan mereka.
Hanya sebentar saja waktu yang Yesus
luangkan bersama murid-murid-Nya yang kekasih itu, namun betapa berharganya
saat-saat yang singkat itu bagi mereka. Mereka membicarakan bersama
tentang pekerjaan injil dan kemungkinan
untuk menjadikan pekerjaan mereka lebih efektif dalam menjangkau orang banyak.
Pada saat Yesus membukakan di hadapan mereka perbendaharaan kebenaran, semangat
mereka dibangkitkan oleh kuasa ilahi dan diilhami dengan pengharapan dan
keberanian.
Namun segera Ia dicari kembali oleh orang
banyak. Menduga bahwa Ia telah pergi ke tempat peristirahatan-Nya yang biasa,
orang banyak itu pergi membuntuti-Nya ke tempat itu. Harapan-Nya untuk bisa
mendapat satu jam saja waktu untuk beristirahat pun terganggu. Namun di dalam
lubuk hati-Nya yang murni dan penuh belas kasihan itu, Gembala yang Baik dari
kawanan domba itu hanya ada kasih dan rasa iba kepada jiwa-jiwa yang gundah
gulana dan haus itu. Seharian Ia melayani kebutuhan mereka, dan pada petang
hari Ia menyuruh mereka pulang ke rumah untuk beristirahat.
Dalam suatu kehidupan yang sepenuhnya
dibaktikan demi kebaikan orang lain, Juruselamat menemukan pentingnya beralih
dari kegiatan yang tak henti-hentinya dan kontak dengan kebutuhan manusia itu,
untuk mencari perhentian dan hubungan yang tak terputus dengan Bapa-Nya. Begitu
rombongan orang banyak yang mengikuti Dia itu beranjak pulang, Ia pergi ke
pegunungan, dan di sana, seorang diri bersama Allah, mencurahkan jiwa-Nya dalam
doa untuk orang-orang yang menderita, penuh dosa dan berkekurangan itu.
Pada waktu Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa
tuaian begitu besar dan pekerja begitu sedikit, Ia tidak mendesak kepada mereka
akan perlunya bekerja tanpa henti, namun Ia berkata kepada mereka, "Karena
itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan
pekerja-pekerja untuk tuaian itu."4 Kepada pekerja-pekerja-Nya yang
sekarang ini bekerja keras, sama seperti kepada murid-murid-Nya yang pertama,
Ia mengucapkan kata-kata penuh belas kasihan, "Marilah ke tempat yang
sunyi, . . . dan beristirahatlah seketika."
Semua yang berada dalam pelatihan Allah
memerlukan waktu yang tenang untuk berhubungan dengan hati mereka sendiri,
dengan alam, dan dengan Allah. Di dalam diri mereka harus dinyatakan suatu
kehidupan yang tidak selaras dengan dunia, dengan adat kebiasaannya, atau
praktik-praktiknya; dan mereka perlu mempunyai suatu pengalaman pribadi dalam
memperoleh satu pengetahuan tentang kehendak Allah. Kita harus secara
perorangan mendengarkan Ia berbicara kepada hati. Manakala suara-suara lain sudah
terdiam, dan di dalam keheningan kita menanti di hadapan Allah, maka ketenangan jiwa
akan membuat suara Allah lebih jelas terdengar. Ia menyuruh kita,
"Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!" Mzm 46:11. Inilah
persiapan yang berhasilguna bagi semua pekerjaan untuk Allah. Di tengah
kerumunan orang yang tergesa-gesa, dan ketegangan aktivitas hidup yang berat
ini, dia yang disegarkan akan diliputi dengan suatu suasana tenang dan damai.
Dia akan menerima suatu anugerah baru, baik kemampuan jasmani maupun pikiran.
Kehidupannya akan menghembuskan
keharuman, dan akan menyatakan suatu kuasa ilahi yang akan menjangkau
hati manusia.

No comments:
Post a Comment
Mohon Tinggalkan komentar saran, kritik, tambahan dan tanggapan anda, sebelum anda keluar dari blog ini dan terima kasih anda telah berkunjung.