4
JAMAHAN IMAN
"Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan
sembuh."1 Ada seorang wanita malang yang mengucapkan kata-kata ini --
seorang wanita yang selama dua belas tahun menderita suatu penyakit yang
membuat hidupnya satu beban. Ia telah menghabiskan semua hartanya untuk biaya
dokter dan pengobatan, namun penyakitnya itu dinyatakan tidak bisa sembuh.
Namun pada saat ia mendengar tentang Tabib Agung itu, harapannya bangkit
kembali. Ia berpikir, "Sekiranya saja aku dapat berada cukup dekat untuk
berbicara kepada-Nya, aku akan dapat sembuh."
Kristus sedang dalam perjalanan menuju
rumah Yairus, seorang rabi Yahudi yang memohon supaya Ia datang untuk
menyembuhkan putrinya. Permohonan yang menyayat hati itu, "Anakku
perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tanganmu
atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup,"2 berhasil menjamah hati
Kristus yang lembut dan penuh simpati, dan langsung Ia pergi bersama pemuka itu
ke rumahnya.
Mereka bergerak maju dengan lambat, karena
kerumunan orang banyak mendesak Yesus dari segala sisi. Sambil mencari jalan
melewati kelompok orang banyak itu, Juruselamat mendekat ke tempat di mana
wanita yang menderita itu berdiri. Berulang-ulang wanita itu mencoba dengan
sia-sia untuk mendekati-Nya. Sekarang peluangnya tiba. Dia tidak melihat adanya
peluang untuk berbicara kepada-Nya. Dia tidak mau menghalangi gerak maju Yesus
yang bergerak dengan perlahan itu. Tapi dia pernah dengar bahwa kesembuhan bisa
datang dari suatu jamahan pada jubah-Nya; dan, kuatir akan kehilangan satu
kesempatan untuk sembuh, ia mendesak maju, sambil berkata kepada dirinya
sendiri, "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Kristus
mengetahui setiap pemikiran dalam benak wanita itu, dan Ia berjalan menuju ke
tempat di mana wanita itu berdiri. Yesus menyadari kebutuhan yang besar dari
wanita itu, dan Ia sedang menolong wanita itu untuk melatih iman.
Waktu Yesus lewat, wanita itu menerobos ke
depan dan berhasil dengan susah payah menjamah tepi jubah Yesus. Saat itu juga
ia tahu bahwa ia telah sembuh. Dalam satu jamahan itu dipusatkan iman
kehidupannya, dan seketika itu juga rasa nyeri dan kelemahannya lenyap. Segera
ia merasa getaran seakan-akan suatu arus listrik mengalir di setiap jaringan
dalam tubuhnya. Dirasakannya suatu perasaan sehat yang sempurna. "Ia
merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya."3
Wanita yang bersyukur ini rindu untuk
mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Tabib Agung itu, yang telah berbuat
lebih banyak baginya hanya dengan satu jamahan dibandingkan dengan apa yang
para dokter lakukan selama dua belas tahun yang panjang; namun dia tidak
memiliki keberanian itu. Dengan hati yang penuh syukur dia berusaha menjauh
dari kerumunan itu. Sekonyong-konyong Yesus berhenti, sambil memandang
berkeliling Ia bertanya, "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"
Sambil memandang kepada-Nya dengan
keheranan, Petrus berkata, "Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak
Engkau." Luk 8:45.
"Ada seorang yang menjamah Aku,"
Yesus berkata, "sebab Aku merasa ada kuasa yang keluar dari
diri-Ku."4 Yesus dapat membedakan jamahan iman dari jamahan biasa
kerumunan orang banyak yang tak peduli itu. Seseorang telah menjamah Dia dengan
suatu maksud yang mendalam, dan orang itu telah menerima jawabannya.
Kristus tidak bertanya untuk mendapatkan
informasi bagi diri-Nya. Ia ingin memberikan pelajaran bagi orang banyak, bagi
murid-murid-Nya, dan bagi wanita itu. Ia ingin mengilhami orang-orang yang
menderita dengan pengharapan. Ia ingin menunjukkan bahwa imanlah yang telah
memberi kuasa penyembuhan. Rasa percaya wanita itu tidak boleh dibiarkan
berlalu tanpa komentar. Allah harus dipermuliakan melalui pengakuan rasa terima
kasihnya. Kristus rindu agar wanita itu mengerti bahwa Ia menyetujui tindakan
iman wanita itu. Wanita itu tidak boleh tetap dalam ketidaktahuannya bahwa
Yesus mengetahui penderitaannya, atau akan belas kasihan-Nya dan perkenan-Nya
terhadap iman wanita itu, dan akan kuasa-Nya untuk menyelamatkan dengan
sepenuhnya semua orang yang datang kepada-Nya.
Sambil memandang kepada wanita itu, Kristus
mendesak untuk mengetahui siapa yang telah menjamah Dia. Sadar bahwa sia-sia
untuk menyembunyikan hal tersebut, wanita itu maju ke depan dengan gemetar, dan
tersungkur di kaki Yesus. Dengan air mata penuh rasa syukur dia menceritakan
kepada Yesus, di hadapan orang banyak itu, mengapa dia telah menjamah jubah
Yesus, dan bagaimana dia langsung menjadi sembuh. Wanita itu takut kalau
tindakannya menjamah jubah Yesus dianggap sebagai satu hal tekebur; namun tak
sepatah kata pun teguran keluar dari bibir Yesus. Yang Ia ucapkan hanyalah
kata-kata merestui. Kata-kata itu keluar dari suatu hati yang penuh kasih,
penuh dengan simpati atas keadaan manusia yang malang. "Hai anak-Ku,"
dengan lembut Ia berkata, "imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan
selamat."5 Betapa menggembirakan kata-kata itu bagi wanita ini. Sekarang
rasa takut bahwa dia telah melakukan tindakan kesalahan tidak lagi mengganggu
kesukaannya.
Kepada orang banyak yang
ingin tahu dan telah berdesak-desak di sekeliling Yesus tidak keluar suatu
kuasa apapun. Namun wanita yang menderita itu yang telah menjamah Dia dengan
iman telah menerima kesembuhan. Jadi dalam hal-hal rohani sentuhan biasa
berbeda dengan jamahan iman. Hanya semata-mata percaya
akan Kristus sebagai Juruselamat dunia tidak akan pernah mendatangkan
kesembuhan kepada jiwa. Iman menuju kepada keselamatan bukanlah sekadar
persetujuan akan kebenaran injil itu. Iman yang sejati adalah yang menerima
Kristus sebagai Juruselamat Pribadi. Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
agar saya, oleh percaya akan Dia, "tidak binasa, melainkan beroleh hidup
yang kekal." Yoh 3:16. Apabila saya datang kepada Kristus, menurut
firman-Nya, saya harus percaya bahwa saya menerima rahmat-Nya yang
menyelamatkan itu. Hidup yang saya jalani sekarang adalah "hidup oleh iman
dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk
aku."6
Banyak orang memegang iman sebagai satu
pendapat. Iman yang menyelamatkan adalah sebuah transaksi, melalui mana mereka
yang menerima Kristus menggabungkan diri dalam hubungan perjanjian dengan
Allah. Suatu iman yang hidup berarti suatu pertambahan kekuatan, suatu
kepercayaan penuh, melalui rahmat Kristus, jiwa itu menjadi suatu kekuatan yang
menaklukkan.
Iman adalah suatu penakluk yang lebih perkasa
daripada kematian. Sekiranya orang sakit dapat dituntun untuk mengarahkan mata
mereka dalam iman kepada Penyembuh yang penuh kuasa itu, kita akan melihat
hasil yang ajaib. Hal itu akan mendatangkan kehidupan kepada tubuh dan kepada
jiwa.
Dalam menangani para
korban dari kebiasaan-kebiasaan buruk, gantinya menunjukkan kepada mereka
keputusasaan dan kehancuran ke mana mereka sedang menuju, alihkanlah mata
mereka kepada Yesus. Arahkanlah pandangan mereka kepada kemuliaan-kemuliaan
surgawi. Ini akan lebih mujarab untuk menyelamatkan tubuh dan jiwa daripada
menunjukkan semua kengerian kubur yang dihadapkan kepada orang yang tak berdaya
dan seolah-olah tak berpengharapan itu.
<UD>"Sesuai dengan
Belaskasihan-Nya Dia Menyelamatkan Kita"<D>
Hamba seorang perwira sedang terbaring
sakit lumpuh. Di kalangan orang-orang Roma, hamba adalah budak yang
diperjualbelikan di pasar, dan sering diperlakukan dengan kejam dan bengis;
tetapi perwira ini begitu dekat dengan hambanya itu, dan sangat mendambakan
kesembuhannya. Dia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Dia tidak pernah
berjumpa dengan Juruselamat, tetapi semua laporan yang dia dengar mengilhaminya
dengan iman. Sekalipun terdapat sikap kaku dari orang-orang Yahudi, orang Roma
ini diyakinkan bahwa agama mereka (Yahudi) lebih unggul dari agamanya sendiri.
Dia telah menerobos rintangan prasangka dan kebencian nasional yang memisahkan
para penakluk ini dari bangsa yang ditaklukkan itu. Dia telah menyatakan rasa
hormat kepada pekerjaan pelayanan Allah dan telah menunjukkan kebaikan kepada
orang-orang Yahudi sebagai penyembah Dia. Dalam pengajaran Kristus, sebagaimana
yang dilaporkan kepadanya, perwira itu menemukan sesuatu yang memenuhi
kebutuhan jiwa. Semua yang bersifat rohani dalam dirinya memberi sambutan
kepada kata-kata Juruselamat itu. Namun dia sendiri berpikir bahwa dia tak
layak untuk menghampiri Yesus, maka dia meminta kepada tua-tua Yahudi agar
memohonkan kesembuhan bagi hambanya itu.
Para tua-tua menyampaikan soal itu kepada
Yesus, mendesak bahwa "Dia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa
kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami."
Namun dalam perjalanan menuju rumah perwira
itu, Yesus menerima sebuah kabar dari perwira itu sendiri, "Tuan,
janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam
rumahku."7
Namun Juruselamat tetap berjalan terus,
lalu perwira itu secara pribadi datang guna melengkapi berita itu, sambil
berkata, "Sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu,"
"tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku
sendiri seorang bawahan dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata
kepada salah seorang prajurit itu: Pergi! maka ia pergi, dan kepada seorang
lagi: Datang! maka ia datang, atau pun kepada hambaku: Kerjakanlah ini! maka ia
mengerjakannya."8
"Aku mewakili kuasa
Roma, dan prajurit-prajuritku mengakui wewenangku sebagai yang tertinggi. Jadi
Engkau mewakili kuasa Allah yang tak terbatas, dan semua makhluk ciptaan menurut
firman-Mu. Engkau dapat perintahkan penyakit itu supaya lenyap
dan ia akan mematuhi
Engkau. Cukup katakan itu saja, maka hambaku akan sembuh."
Kristus berkata: "'Pulanglah dan
jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.' Maka pada saat itu juga sembuhlah
hambanya."9
Tua-tua Yahudi telah memuji perwira itu di hadapan Kristus
oleh karena kebaikan yang dia telah tunjukkan kepada "bangsa kita."
Dia layak, kata mereka, karena "dialah yang menanggung pembangunan rumah
ibadat kami." Tetapi perwira itu berkata kepada dirinya sendiri, "Aku
tidak layak." Namun dia tidak takut untuk meminta pertolongan dari Yesus.
Bukan pada kebaikannya itu dia percaya, melainkan pada belas kasihan
Juruselamat. Satu-satunya alasan perwira itu adalah kebutuhannya yang besar.
Di dalam cara yang sama setiap insan
manusia dapat datang kepada Kristus. "Dia telah menyelamatkan kita, bukan
karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena
rahmat-Nya."10 Adakah engkau merasa bahwa karena engkau seorang berdosa maka
engkau tidak dapat berharap untuk menerima berkat dari Allah? Ingat bahwa
Kristus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Kita tidak
mempunyai apa-apa untuk menyodorkan diri kita kepada Allah; permohonan yang
boleh kita desakkan sekarang dan selamanya ialah keadaan kita yang sama sekali
tak berdaya, yang membuat kuasa penebusan-Nya menjadi suatu keperluan. Dengan
menyangkal seluruh kebergantungan pada diri sendiri, kita boleh memandang
kepada kayu salib Golgota dan berkata:
"Dalam tanganku tak ada yang berharga
kubawa;
Semata-mata kepada kayu salib-Mu aku
berpaut."
"Tidak ada yang mustahil bagi orang
yang percaya."11 Imanlah yang menghubungkan kita dengan surga dan
mendatangkan kekuatan kepada kita untuk menghadapi kuasa-kuasa kegelapan. Dalam
Kristus, Allah menyediakan cara untuk menundukkan setiap sifat yang jahat dan
menolak setiap penggodaan, bagaimanapun kuatnya. Namun banyak yang merasa bahwa mereka kurang iman,
dan oleh karenanya mereka tetap menjauh dari Kristus. Biarlah jiwa-jiwa ini, dalam
ketidaklayakan mereka, menjatuhkan diri ke atas rahmat Juruselamat yang penuh
dengan belas kasihan. Jangan melihat diri sendiri, tetapi pandanglah Kristus.
Ia yang menyembuhkan orang sakit dan mengeluarkan setan-setan ketika Ia
berjalan di antara manusia adalah tetap Penebus perkasa yang sama. Jika
demikian raihlah janji-janji-Nya sebagai daun-daun pohon kehidupan. "Dan
barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang."12 Pada
saat engkau datang kepada-Nya, percayalah bahwa Ia menerima engkau, karena Ia
telah berjanji demikian. Engkau tak akan pernah binasa selagi engkau melakukan
hal ini -- ya, takkan pernah.
=================================================================
<MI>"Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka
mengampuni, dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru
kepada-Mu
. . . Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab
Engkau menjawab aku."13 <D>.
=================================================================
=================================================================
<MI>"Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat
kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada
pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang . . . Berharaplah kepada Tuhan, hai
Israel! Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan
pembebasan."14<D>.
=================================================================
"Akan tetapi Allah
menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita
ketika kita masih berdosa."15
Dan "Jika Allah di
pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan
Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah
mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan
Dia?"16
"Sebab aku yakin, bahwa baik maut,
maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang
ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas,
maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak dapat memisahkan kita
dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."17
<UD>"Engkau Dapat Mentahirkan
Aku<D>."
Dari semua penyakit yang dikenal di Timur,
kusta adalah yang paling ditakuti. Sifat penyakit itu yang tak dapat
disembuhkan dan menular, serta pengaruhnya yang mengerikan atas
korban-korbannya, menghantui orang yang paling berani sekalipun dengan rasa
gentar. Di antara orang-orang Yahudi penyakit ini dianggap sebagai satu hukuman
akibat dosa, karena itu penyakit ini disebut sebagai "pukulan,"
"tudingan jari Allah." Berakar dalam, tak dapat dimusnahkan,
mematikan, maka penyakit itu dipandang sebagai lambang dosa.
Oleh suatu undang-undang keagamaan orang
kusta dinyatakan najis. Apa saja yang dijamahnya menjadi najis. Udara dikotori
oleh napasnya. Seperti seorang yang sudah mati, dia diusir keluar dari tempat
pemukiman manusia. Seseorang yang dicurigai mengidap penyakit ini harus
menghadapkan dirinya kepada para imam, yang akan memeriksa dan menentukan kasusnya.
Jika dinyatakan sebagai seorang kusta, dia diasingkan dari keluarganya,
dikeluarkan dari perhimpunan orang Israel, dan dihukum hanya bergaul dengan
mereka yang mempunyai penderitaan yang sama. Bahkan raja-raja dan para penguasa
sekalipun tak terkecuali. Seorang raja yang terserang penyakit mengerikan ini
harus menyerahkan tongkat kekuasaannya dan menyingkir dari masyarakat.
Jauh dari sahabat-sahabat dan sanak
keluarganya, orang kusta itu harus memikul kutukan penyakitnya itu. Ia wajib
untuk mengumumkan nasib celakanya itu, mencabik-cabik pakaiannya, serta
membunyikan tanda peringatan, memberi amaran kepada semua orang supaya lari
dari kehadirannya yang mencemarkan itu. Seruan "Najis! Najis!" yang
terdengar dalam nada-nada meratap dari orang terbuang yang kesepian itu,
merupakan suatu tanda yang didengar dengan rasa takut dan jijik.
=================================================================
<MI>"Siapa
dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorang pun tidak!"18
"Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir,
basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju<D>."19
=================================================================
Dalam wilayah pelayanan Kristus terdapat
banyak penderita ini, dan di saat berita-berita tentang pekerjaan-Nya sampai
kepada mereka, ada seorang yang dalam hatinya iman itu mulai bertumbuh.
Seandainya saja ia dapat pergi kepada Yesus, maka dia dapat disembuhkan. Namun
bagaimana dia bisa menemukan Yesus? Terhukum dengan pengasingan selama-lamanya,
bagaimana dia boleh menghadapkan dirinya kepada Penyembuh itu? Akankah Kristus
menyembuhkannya? Tidakkah Ia, seperti orang-orang Farisi, bahkan para tabib
yang mengucapkan suatu kutuk atasnya lalu memberi amaran kepadanya supaya
menyingkir dari perburuan manusia?
Dia
memikir-mikirkan semua yang telah diceritakan kepadanya tentang Yesus. Tak
seorang pun yang sudah mencari pertolongan-Nya itu ditolak. Orang yang malang
ini mengambil tekad untuk menemukan Juruselamat itu. Walaupun tak diizinkan
masuk ke dalam kota, bisa saja ia berpapasan dengan-Nya di salah satu jalan di
pegunungan, atau menemukan Dia selagi mengajar di luar kota. Kesulitannya
besar, namun inilah satu-satunya pengharapannya.
Sambil berdiri di kejauhan, orang kusta itu
menangkap beberapa kata dari bibir Juruselamat itu. Ia melihatNya menumpangkan
tangan ke atas orang sakit. Ia melihat orang timpang, orang buta, orang lumpuh,
dan mereka yang sekarat karena berbagai-bagai penyakit bangkit menjadi sehat
lalu memuji Allah karena kelepasan itu. Imannya semakin kuat. Ia beringsut
semakin lama semakin dekat kepada kerumunan orang yang sedang mendengarkan itu.
Semua larangan yang berlaku atasnya, keselamatan orang banyak, rasa takut orang
banyak kepadanya, semuanya dilupakan. Yang dia pikirkan hanyalah tentang
harapan kesembuhan yang berbahagia itu.
Dirinya merupakan satu pemandangan yang
memuakkan. Penyakit itu telah menyerang secara mengerikan, dan tubuhnya yang
membusuk itu sungguh menakutkan untuk dipandang. Begitu melihat dirinya orang
banyak mundur. Dalam kengerian mereka berjejal satu dengan yang lain untuk menghindari terjadinya kontak
dengannya. Beberapa orang berusaha mencegah dia menghampiri Yesus, tetapi
sia-sia. Dia sama sekali tidak menggubris mereka. Pernyataan-pernyataan muak
mereka sama sekali tidak dipedulikannya. Dia hanya melihat Putra Allah, dia
hanya mendengar suara yang mengucapkan kehidupan kepada orang yang sekarat.
Sembari terus mendesak maju kepada Yesus,
dia menjatuhkan dirinya di kaki Yesus dengan seruan, "Tuan, jika Tuan mau,
Tuan dapat mentahirkan aku."
Yesus menjawab, "Aku mau, jadilah
engkau tahir," lalu Ia menaruh tangan-Nya ke atasnya.20
Dengan segera suatu perubahan melanda orang
kusta itu. Darahnya menjadi sehat, saraf-sarafnya menjadi peka, otot-ototnya
menjadi kuat. Permukaan kulitnya yang berwarna putih bersisik secara tidak
wajar sebagaimana layaknya seorang kusta, kini menghilang; dan dagingnya
menjadi seperti daging seorang anak kecil.
Seandainya saja para imam mengetahui semua
fakta tentang penyembuhan orang kusta ini, kebencian mereka terhadap Kristus
akan menuntun mereka untuk memvonis secara tidak jujur. Yesus ingin agar suatu
keputusan yang tulus dijamin. Itu sebabnya Ia menyuruh orang itu agar tidak
menceritakan kepada siapa pun tentang kesembuhan itu, tetapi tanpa menunda dia
menghadapkan dirinya ke kaabah sambil membawa persembahan sebelum kabar tentang
mukjizat itu tersebar luas. Sebelum para imam dapat menerima persembahan
seperti itu, mereka dituntut harus memeriksa si pembawa persembahan itu dan
menyatakan kesembuhannya yang sempurna.
Pemeriksaan ini pun diadakan. Para imam
yang telah menghukum orang kusta ini ke pembuangan memberi kesaksian tentang
kesembuhannya. Orang yang telah sembuh itu dikembalikan ke rumah dan lingkungan
masyarakatnya. Dia merasa bahwa anugerah kesehatan itu sangat berharga. Dia
bersuka atas pemulihan kekuatannya sebagai seorang laki-laki dan
dikembalikannya dia kepada keluarganya. Kendatipun sudah diperingatkan oleh
Yesus namun dia tak dapat menyembunyikan lebih lama lagi fakta penyembuhannya,
dan dengan penuh kesukaan dia berkeliling memasyhurkan kuasa Seorang yang telah
menyembuhkannya.
Pada waktu orang ini datang kepada Yesus,
dirinya "penuh dengan kusta." Racunnya yang mematikan itu telah
merambah ke seluruh tubuhnya. Para murid
mencari jalan untuk mencegah Guru mereka
agar tidak menjamah dia; karena dia yang
menjamah seorang kusta menjadikan dirinya najis. Namun dalam menaruh tangan-Nya
ke atas orang kusta itu, Yesus sama sekali tidak tercemar. Penyakit kusta itu
telah ditahirkan. Begitulah dengan penyakit kusta dosa, berakar dalam,
mematikan, mustahil untuk dibersihkan oleh kuasa manusia. "Seluruh kepala
sakit dan seluruh hati lemah lesu. Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada
yang sehat; bengkak dan bilur dan luka baru."21 Tapi Yesus yang datang dan
tinggal dalam ujud kemanusiaan, tidak dicemari. Hadirat-Nya adalah khasiat
penyembuhan bagi orang berdosa. Siapa saja yang mau jatuh di kaki-Nya dan
berkata dalam iman, "Tuan, jika Tuan mau, Tuan
dapat mentahirkan aku," akan mendengar
jawaban: "Aku mau, jadilah engkau tahir."
Dalam beberapa contoh
penyembuhan, Yesus tidak segera memberikan berkat yang dicari. Namun dalam
kasus penyakit kusta itu, begitu diminta, langsung dikabulkan. Bilamana kita
berdoa untuk mendapatkan berkat-berkat duniawi, jawaban kepada doa kita bisa
saja ditangguhkan, atau Allah boleh saja memberi kita sesuatu yang lain dari
yang kita minta; namun tidak demikian jika kita meminta kelepasan dari dosa. Adalah kehendak-Nya untuk menyucikan kita
dari dosa, untuk menjadikan kita putra-putri-Nya, dan untuk menyanggupkan kita
menghayati suatu kehidupan yang suci. Kristus
"telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita
dari dunia yang jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa
kita."22 "Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa
Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut
kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita
minta, maka kita juga tahu bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang
telah kita minta kepada-Nya."
Yesus memandang kepada orang-orang yang
cemas dan berhati berat, mereka yang pengharapannya telah hancur, dan yang
dengan kesenangan duniawi sedang berusaha untuk mendiamkan kerinduan jiwa itu,
dan Ia mengundang semua untuk menemukan perhentian di dalam Dia.
<UD>"Engkau Akan Mendapat
Perhentian"<D>
Dengan lembut Ia mengimbau kepada orang
banyak yang letih itu, "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,
karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat
ketenangan."23.
Dengan kata-kata ini, Kristus sedang
berbicara kepada setiap insan manusia. Apakah mereka sadari atau tidak, semua
sedang letih dan berbeban berat. Semua sedang dibebani dengan pikulan-pikulan
yang hanya Kristus dapat melepaskannya. Beban paling berat yang kita pikul
adalah beban dosa. Sekiranya kita dibiarkan memikul beban ini, maka beban itu
akan meremukkan kita. Namun Ia Yang Tak Berdosa itu telah mengambil tempat
kita. "Tuhan telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian."24
Ia telah memikul beban kesalahan kita. Ia
akan mengangkat beban itu dari bahu kita yang letih. Ia akan memberi kita
perhentian. Beban kesusahan dan dukacita juga akan dipikul-Nya. Ia mengajak
kita untuk menyerahkan seluruh beban kita kepada-Nya, karena Ia memikul kita di
hati-Nya.
Saudara Tua kita itu berada di takhta yang kekal. Ia
memandang kepada setiap jiwa yang menoleh kepada-Nya sebagai Juruselamat. Ia tahu dari pengalaman apa kelemahan umat manusia, apa yang menjadi
kekurangan kita, dan di mana letak kekuatan penggodaan kita; karena "sama
dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa."25 Ia
memperhatikan engkau, hai anak Allah yang gemetar. Apakah engkau tergoda? Ia
akan melepaskan. Apakah engkau lemah? Ia akan menguatkan. Apakah engkau tidak
berpengetahuan? Ia akan menerangi. Adakah engkau terluka? Ia akan menyembuhkan.
Tuhan
"menentukan jumlah bintang;" namun juga "Ia menyembuhkan
orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka."26
Apapun kecemasan dan
pergumulanmu, bentangkan masalahmu di
hadapan Tuhan. Jiwamu akan disegarkan agar memiliki daya tahan. Jalan akan dibukakan bagimu guna melepaskan dirimu dari rasa malu dan
kesukaran. Semakin lemah dan tak berdaya engkau menyadari dirimu, akan semakin
kuatlah engkau di dalam kekuatan-Nya. Semakin berat bebanmu, semakin
membahagiakan kelegaan dengan menyerahkan semua itu kepada Pemikul Bebanmu.
Keadaan bisa memisahkan sahabat; gelombang samudera luas yang
bergelora bisa menerpa di antara kita dan mereka. Namun tidak ada keadaan,
tidak ada jarak, yang dapat memisahkan kita dari Juruselamat. Di mana saja kita berada, Ia berada di samping kanan kita, untuk
menopang, memelihara, menegarkan dan menggembirakan kita. Lebih besar dari
kasih seorang ibu kepada anaknya adalah kasih Kristus kepada umat tebusan-Nya.
Adalah hak istimewa kita untuk beristirahat dalam kasih-Nya, dengan mengatakan,
"Aku akan menaruh percaya kepada-Nya karena Ia telah memberikan nyawa-Nya
bagiku."
Kasih manusia bisa berubah, namun kasih
Kristus tak kenal berubah. Bila kita berseru kepada-Nya meminta pertolongan,
tangan-Nya terulur untuk menyelamatkan.
"Sebab biarpun gunung-gunung beranjak
dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari
padamu, dan perjanjian damai-Ku tidak akan beranjak dari padamu, dan perjanjian
damai-Ku tidak akan bergoyang, firman Tuhan, yang mengasihi engkau."27

No comments:
Post a Comment
Mohon Tinggalkan komentar saran, kritik, tambahan dan tanggapan anda, sebelum anda keluar dari blog ini dan terima kasih anda telah berkunjung.