5
PENYEMBUHAN JIWA
Banyak dari mereka yang datang kepada
Kristus untuk memohon pertolongan sebenarnya mereka sendiri yang telah
menimbulkan penyakit itu pada diri mereka. Namun Ia tidak menolak untuk menyembuhkan mereka. Pada waktu
khasiat dari pada-Nya memasuki jiwa-jiwa ini, mereka diyakinkan akan dosa, dan
banyak disembuhkan dari penyakit rohani mereka sebagaimana juga penyakit
jasmani.
Di antara mereka ini terdapat orang lumpuh
di Kapernaum. Seperti orang kusta itu, orang lumpuh ini telah kehilangan
harapan untuk sembuh. Penyakitnya itu disebabkan kehidupan yang penuh dosa, dan
penderitaannya semakin pahit oleh penyesalan yang dalam. Sia-sia dia memohon
kesembuhan dari orang-orang Farisi dan para dokter; mereka menyatakan dia tak
dapat disembuhkan, mereka mencela dia sebagai seorang berdosa dan menyatakan
dia akan mati di bawah murka Allah.
Orang lumpuh itu telah tenggelam dalam
keputusasaan. Lalu dia mendengar tentang pekerjaan yang dilakukan Yesus.
Orang-orang lain yang sama berdosa dan tak berdaya seperti dirinya telah
disembuhkan, dan dia dikuatkan untuk percaya bahwa dirinya juga bisa
disembuhkan sekiranya dia dapat dibawa kepada Juruselamat itu. Namun
pengharapannya pudar ketika dia mengingat penyebab penyakitnya, namun dia tidak
dapat menyisihkan kemungkinan kesembuhan itu.
Kerinduannya yang besar adalah kelepasan
dari beban dosa itu. Dia rindu melihat Yesus dan menerima jaminan pengampunan
serta didamaikan dengan surga. Maka dia akan merasa puas apakah akan hidup atau
mati, sesuai dengan kehendak Allah.
Tidak ada waktu yang terbuang; tubuhnya
yang lunglai itu menunjukkan tanda-tanda kematian. Dia memohon kepada
kawan-kawannya agar membawa dia kepada Yesus sambil terbaring di atas tempat
tidurnya, dan dengan gembira mereka melakukannya. Namun kerumunan orang begitu
padat di dalam dan di sekitar rumah di mana Juruselamat berada, sehingga
mustahil bagi orang sakit itu dan kawan-kawannya untuk sampai kepada-Nya, atau
bahkan masuk untuk mendengar suara-Nya. Yesus sedang mengajar di rumah Petrus.
Menurut kebiasaan mereka, murid-murid-Nya duduk dekat dengan-Nya, dan "ada
beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang
dari berbagai desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem."1 Banyak dari mereka ini yang
datang sebagai mata-mata, mencari suatu tuduhan terhadap Yesus. Selain
mereka, orang banyak berkerumun dan bercampur aduk, orang yang mempunyai
keinginan bertemu, orang yang menaruh hormat, orang yang ingin tahu, dan orang
yang tak percaya. Kebangsaan yang berbeda-beda serta semua lapisan masyarakat
terwakili di sana. "Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat
menyembuhkan orang sakit."2 Roh kehidupan menguasai kumpulan itu, namun
orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu tidak melihat hadirat-Nya. Mereka tidak
merasakan sesuatu kebutuhan, maka penyembuhan itu tidaklah diperuntukkan bagi
mereka. "Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan
menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa."3
Berulang-ulang para pengusung orang lumpuh
ini berusaha mendesak maju melewati kerumunan orang banyak itu, namun sia-sia.
Orang yang sakit itu memandang ke sekeliling dirinya dengan keluhan yang tak
terucapkan. Bagaimana dia dapat melepaskan pengharapan itu padahal pertolongan
yang telah lama dirindukan itu begitu dekat? Atas anjurannya sahabat-sahabatnya
mengangkut dia ke atap rumah, membobol atap itu, lalu menurunkannya di depan
kaki Yesus.
Khotbah itu terganggu. Juruselamat
memandang wajah yang penuh duka dan melihat mata yang memohon itu tertuju
kepada-Nya. Ia tahu betul akan kerinduan dari jiwa yang menanggung beban itu.
Kristuslah yang telah mendatangkan keyakinan kepada hati nurani orang lumpuh
itu bahkan selagi dia masih berada di rumah. Pada waktu dia bertobat dari
dosa-dosanya dan percaya akan kuasa Yesus yang dapat menyembuhkannya, rahmat
Juruselamat telah memberkati hatinya. Yesus telah memperhatikan cahaya iman
yang mula-mula redup itu bertumbuh menjadi suatu keyakinan bahwa Ia adalah
satu-satunya penolong orang berdosa itu, dan telah melihat iman itu bertumbuh semakin
kuat bersamaan dengan setiap usaha untuk datang ke hadirat-Nya. Kristuslah yang
telah menarik si penderita itu datang kepada-Nya. Sekarang, dengan kata-kata
yang bagaikan musik di telinga pendengar-Nya itu, Juruselamat berkata,
"Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."4
Beban rasa bersalah bergulir dari jiwa orang sakit itu. Dia tidak dapat meragukannya. Kata-kata Kristus memperlihatkan
kuasa-Nya untuk menyelami hati. Siapa yang dapat menyangkal kuasa-Nya untuk
mengampuni dosa? Pengharapan menggantikan keputusasaan, dan kesukaan
menggantikan kemurungan yang menekan. Rasa sakit orang itu pun hilang, dan
seluruh tubuhnya telah berubah. Tanpa melanjutkan permohonannya, dia terbaring
diam dalam damai, terlalu gembira untuk berkata-kata.
Banyak yang memperhatikan dengan terkesima setiap gerakan dari
perbuatan yang ganjil ini. Banyak yang merasa bahwa kata-kata Kristus adalah
suatu undangan kepada mereka. Bukankah mereka orang-orang
yang jiwanya sakit karena dosa? Tidakkah mereka juga ingin untuk dilepaskan
dari beban ini?
Tetapi orang-orang Farisi, yang takut
kehilangan pengaruh mereka atas orang banyak itu, berkata dalam hati, "Ia
menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah
sendiri?"5
Sambil mengarahkan pandangan mata-Nya
kepada mereka yang kini gemetar ketakutan dan mulai mundur, Yesus berkata,
"Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih
mudah mengatakan: Dosamu diampuni, atau mengatakan, Bangunlah dan berjalanlah?
Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni
dosa--lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: Bangunlah, angkatlah tempat
tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"6
Kemudian dia yang telah diusung di atas
tandu untuk datang kepada Yesus itu bangkit berdiri dengan kelincahan dan
kekuatan masa muda. Dengan segera dia "mengangkat tempat tidurnya dan
pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu
memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."7
Dibutuhkan tidak kurang dari kuasa
penciptaan untuk memulihkan kesehatan tubuh yang telah membusuk itu. Suara yang
sama yang memberi kehidupan kepada manusia ketika diciptakan dari debu tanah,
telah memberi kehidupan kepada orang lumpuh yang sekarat itu. Kuasa yang sama
yang memberi kehidupan kepada tubuh telah membarui hati itu. Ia yang pada saat
penciptaan "berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka
semuanya ada"8 telah memberi kehidupan kepada jiwa yang mati dalam
pelanggaran dan dosa itu. Penyembuhan tubuh adalah suatu bukti dari kuasa yang
telah membarui jiwa. Kristus menyuruh orang lumpuh itu untuk bangun dan
berjalan, "supaya kamu tahu," Ia berkata, "bahwa di dunia ini
Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa."
Orang lumpuh itu menemukan dalam Kristus penyembuhan bagi
jiwa maupun tubuhnya. Dia memerlukan kesehatan jiwa sebelum dia dapat menghargai kesehatan tubuh.
Sebelum penyakit jasmani
dapat disembuhkan, Kristus harus mendatangkan kedamaian kepada pikiran, dan
membersihkan jiwa dari dosa. Pelajaran ini hendaknya jangan diabaikan. Sekarang ini terdapat
ribuan orang yang menderita karena penyakit fisik seperti orang lumpuh itu,
merindukan kata-kata pekabaran, "Dosa-dosamu sudah diampuni." Beban
dosa, dengan keinginan-keinginannya yang tak pernah berhenti dan tak
terpuaskan, adalah dasar dari penyakit-penyakit mereka. Mereka tidak dapat
menemukan kelegaan sampai mereka datang kepada Penyembuh jiwa itu. Kedamaian
yang Ia saja dapat berikan akan memulihkan kekuatan kepada pikiran dan
kesehatan kepada tubuh.
Pengaruh yang ditimbulkan atas orang banyak
oleh penyembuhan orang lumpuh itu adalah surga seakan-akan telah terbuka dan
menampakkan kemuliaan-kemuliaan dunia yang lebih baik itu. Pada saat orang yang
telah disembuhkan itu berjalan melintasi orang banyak itu, memuji Allah pada
setiap langkahnya, sambil membawa barang bawaannya yang seakan-akan beratnya
seperti sehelai bulu, orang banyak mundur untuk memberi ruang baginya dan
dengan wajah yang takjub memandang orang itu, mereka berbisik di antara sesama
mereka, "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat
mengherankan."9
Di rumah orang lumpuh itu terjadi satu
kesukaan besar sewaktu ia pulang kepada keluarganya, dengan enteng membawa
tempat tidur di atas mana dia telah diusung perlahan-lahan dari hadapan mereka
beberapa saat yang lalu. Mereka berkumpul berkeliling dengan air mata
kegembiraan, hampir tidak berani mempercayai mata mereka. Dia berdiri di depan
mereka dengan kekuatan penuh sebagai seorang laki-laki. Lengan-lengan yang
tadinya nampak lunglai kini dengan cepat menuruti perintahnya. Daging tubuhnya
yang dulu telah mengerut dan pucat kini segar dan kemerah-merahan. Dia berjalan
dengan langkah-langkah yang tegar dan bebas. Kesukaan dan pengharapan terbersit
pada setiap garis di wajahnya, dan suatu ekspresi kemurnian dan damai
menggantikan tanda-tanda dosa dan penderitaan. Ucapan syukur yang penuh
kesukaan terdengar dari rumah itu, dan Allah dimuliakan melalui Putra-Nya, yang
telah memulihkan pengharapan orang yang tak berdaya itu serta kekuatan kepada
yang tertimpa penyakit itu. Orang ini dan keluarganya sudah siap untuk
menyerahkan hidup mereka kepada Yesus. Tak ada kebimbangan yang meredupkan iman
mereka, tidak ada sifat tak percaya yang mencemari kesetiaan mereka kepada Dia
yang telah membawa terang ke dalam rumah mereka yang gelap.
"Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah
nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan
janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu,
yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lubang
kubur, . . . Sehingga masa mudamu menjadi baru seperti burung raja wali. Tuhan
menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas. . . . Tidak
dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya
kepada kita setimpal dengan kesalahan kita. . . . Seperti bapa sayang kepada
anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.
Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu."10
<UD>"Maukah Engkau
Sembuh?"<D>
"Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang
Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima
serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit:
orang-buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu."11
Pada saat-saat tertentu, air kolam ini
bergoncang, dan biasanya mereka percaya
bahwa ini terjadi sebagai akibat dari kuasa gaib, dan bahwa barangsiapa yang
pertama meloncat ke dalam air sewaktu airnya bergoncang, akan disembuhkan dari
apa pun penyakit orang itu. Ratusan penderita mengunjungi tempat itu; tetapi
pada waktu air itu bergoncang begitu banyak orang yang ingin mendesak ke depan,
menginjak laki-laki dan perempuan dan anak-anak yang lebih lemah dari mereka.
Banyak yang tidak dapat menghampiri kolam itu. Banyak yang berhasil
mendekatinya mati di pinggir kolam itu. Banyak tenda didirikan di tempat itu
untuk tempat bernaung agar orang sakit itu terlindung dari terik matahari pada
siang hari dan dari cuaca dingin pada malam hari. Ada sebagian yang bermalam di
serambi-serambinya, merangkak ke pinggir kolam setiap hari, sia-sia
mengharapkan kesembuhan.
Yesus berada di Yerusalem. Berjalan
sendirian seolah-olah sedang merenung dan berdoa, Ia datang ke kolam itu. Ia
menyaksikan para penderita yang malang itu sedang berjaga menantikan saat yang
mereka anggap satu-satunya kesempatan untuk disembuhkan. Ia rindu menjalankan
kuasa penyembuhan-Nya dan menyembuhkan setiap penderita. Tetapi hari itu adalah
hari Sabat. Orang banyak sedang pergi ke kaabah untuk berbakti, dan Ia tahu
bahwa tindakan penyembuhan seperti itu akan menimbulkan prasangka orang Yahudi
sehingga dapat mempersingkat pekerjaan-Nya.
Tetapi Juruselamat melihat satu keadaan
yang sangat parah. Ada seorang yang lumpuh tidak berdaya sudah berada di sana
selama tiga puluh delapan tahun. Penyakitnya itu kebanyakan diakibatkan oleh
kebiasaan buruknya sendiri dan dianggap sebagai hukuman dari Allah. Seorang
diri tanpa sahabat, merasa dikucilkan dari belas kasihan Allah, penderita ini
telah melewati tahun-tahun yang panjang dalam kesengsaraannya. Pada saat air
itu akan bergoncang menurut harapan mereka, mereka yang merasa iba pada
ketidakberdayaannya akan membawa dia ke serambi. Tetapi pada saat yang tepat
tidak ada orang yang menolongnya. Dia telah melihat gelombang air itu, tetapi
tidak pernah sanggup untuk beringsut lebih jauh dari pinggir kolam itu.
Orang-orang lain yang lebih kuat dari dia akan meloncat ke dalam mendahuluinya.
Penderita yang malang itu tidak berhasil bersaing dengan orang banyak yang
mementingkan dirinya sendiri dan saling berebutan itu. Usaha yang mati-matian
untuk mencapai satu tujuan, dan kerinduan serta kekecewaan yang berkepanjangan
dengan cepat menghabiskan sisa tenaganya.
Orang sakit itu tergeletak di atas
tikarnya, dan sekali-sekali mengangkat kepalanya melihat ke kolam itu, ketika
sebuah wajah lembut membungkuk dan menyapanya dengan rasa iba, "Maukah
engkau sembuh?" menguasai perhatiannya. Pengharapan terbit dalam hatinya.
Dia merasa dirinya akan tertolong dengan sesuatu cara. Tetapi sinar semangatnya
cepat sirna. Dia teringat betapa sering dia berusaha mencapai kolam itu,
sekarang dia hanya mempunyai sedikit harapan hidup sebelum kolam itu bergoncang
lagi. Dia menoleh sambil berkata, "Tuan, kalau air itu bergoncang, tidak
ada orang yang menyeret saya ke dalam kolam itu; tetapi bilamana saya sudah
menghampirinya, orang lain akan menginjak saya dan terjun ke kolam itu di
hadapan saya."
Yesus katakan kepadanya, "Bangunlah dan
angkatlah tilammu dan berjalanlah."12 Dengan suatu harapan baru orang
sakit itu menatap wajah Yesus. Penampilan wajah-Nya, kelembutan suara-Nya,
berbeda dengan orang yang lain. Kasih dan kuasa nampaknya terhembus dari
hadirat-Nya. Iman orang lumpuh itu memegang kata-kata Kristus. Tanpa ragu dia
memutuskan dalam hati untuk menurut, dan sementara dia melakukan ini seluruh
tubuhnya bereaksi.
Setiap saraf dan otot dirangsang dengan
kehidupan baru, dan anggota tubuhnya yang lumpuh itu bergerak dengan sehat. Sambil
melompat berdiri dia langsung berjalan dengan langkah yang tegap dan bebas
sambil memuji Allah dan bergembira dengan kekuatannya yang baru itu.
Yesus tidak memberikan jaminan pertolongan
ilahi kepada orang lumpuh itu. Orang itu mungkin akan berkata, "Tuhan,
jikalau engkau menyembuhkan aku, aku akan menurut firman-Mu." Dia mungkin
merasa sangsi, dan dengan demikian akan kehilangan kesempatan untuk sembuh.
Tetapi tidak, dia percaya perkataan Kristus, percaya bahwa dia akan
disembuhkan; segera dia berusaha, dan Allah memberikan kuasa itu; dia ingin
berjalan, dan dia bisa berjalan. Dengan melakukan firman Kristus, dia sudah
disembuhkan.
Kita telah dipisahkan oleh dosa dari
kehidupan Allah. Jiwa kita lumpuh. Kita tidak lebih mampu untuk menghidupkan
satu kehidupan yang kudus oleh diri kita sendiri ketimbang orang lumpuh yang
dapat berjalan itu. Banyak orang menyadari akan kelemahannya; mereka merindukan
kehidupan rohani yang akan menyelaraskan mereka dengan firman Allah dan
berjuang untuk memperolehnya. Tetapi sia-sia usahanya. Dalam keputusasaan
mereka berseru, "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku
dari tubuh maut ini?"13 Hendaklah
orang-orang yang ragu-ragu dan sedang bergumul ini melihat ke atas. Juruselamat
sedang membungkuk di atas mereka yang telah dibeli dengan darah-Nya, sambil
berkata dengan kelembutan yang tak terkatakan, "Maukah engkau
sembuh?" Ia menyuruh engkau supaya bangkit di dalam kesehatan dan
kedamaian. Janganlah bertangguh untuk merasakan bahwa engkau sedang disembuhkan.
Percayalah pada perkataan Juruselamat itu. Serahkanlah kemauanmu pada pihak
Kristus. Kemauan untuk melayani Dia, dan dengan berbuat menurut firman-Nya
engkau akan menerima kekuatan. Apapun kejahatan yang engkau sedang praktekkan,
hawa nafsu yang melalui pemanjaan berkepanjangan sudah mengikat tubuh maupun
jiwa, Kristus rindu dan sanggup untuk melepaskan engkau. Ia akan memberi hidup
bagi jiwa yang "mati dalam pelanggaran."14 Ia akan membebaskan
tawanan yang terjerat oleh kelemahan dan nasib sial serta rantai dosa.
Perasaan berdosa telah meracuni mata air
kehidupan. Tetapi Kristus berkata, "Aku akan mengampuni dosa-dosamu; Aku
akan memberikan damai kepadamu. Aku telah membelimu dengan darah-Ku sendiri.
Engkau adalah milik-Ku akan menguatkan kemauanmu yang lemah. Aku akan mengikis
dosamu yang sudah disesali." Apabila penggodaan menyerangmu, bilamana
keluh kesah dan kebingungan mengelilingimu, ketika tertekan dan patah semangat
engkau siap menyerah kepada keputusasaan, pandanglah pada Yesus, maka kegelapan
yang menyelubungimu akan dihalau oleh cahaya terang hadirat-Nya. Apabila dosa
bergumul menguasai jiwamu, dan membebani hati nuranimu, pandanglah kepada
Juruselamat. Rahmat-Nya cukup untuk mengalahkan dosa. Biarlah hatimu yang
bersyukur itu, yang goyah karena ketidakpastian, berpaling kepada-Nya.
Peganglah erat-erat pengharapan yang ada di hadapanmu. Kristus menunggu untuk
mengangkat engkau menjadi anggota keluarga-Nya. Kekuatan-Nya akan menolong
kelemahanmu. Ia akan menuntun engkau langkah demi langkah. Ulurkanlah tanganmu
kepada-Nya, dan biarlah Ia yang menuntunmu.
Janganlah pernah merasa bahwa Kristus itu jauh dari padamu. Ia
senantiasa dekat. Hadirat-Nya yang indah itu mengelilingimu. Carilah Dia
sebagai Seorang yang ingin engkau temukan. Ia ingin agar engkau bukan hanya
menjamah jubah-Nya, tetapi berjalan bersama Dia dalam hubungan yang tetap.
<UD>"Pergilah, dan Jangan
Berbuat Dosa Lagi"<U>
Pesta Pondok Daunan sudah selesai. Para
Imam dan rabi di Yerusalem telah dikalahkan dalam rencana mereka menangkap
Yesus, dan pada waktu malam tiba, "Lalu mereka pulang masing-masing ke
rumahnya, tetapi Yesus pergi ke Bukit Zaitun."15
Dari kegemparan dan kekacauan di kota itu,
dari kerumunan orang banyak yang gembira dan para rabi yang curang, Yesus pergi
ke rumpun pohon zaitun yang tenang, di mana Ia dapat menyendiri bersama Allah.
Tetapi pagi-pagi buta Ia kembali ke Kaabah; sementara orang-orang berkerumun
sekeliling-Nya, Ia duduk dan mengajar mereka.
Tidak lama kemudian Ia terusik. Sekelompok
Farisi dan ahli Taurat menghampiri-Nya, sambil menyeret seorang wanita yang
ketakutan, yang dengan suara lantang dituduh telah melanggar hukum ketujuh.
Setelah mendorong dia ke hadapan Yesus, mereka berkata dengan memperlihatkan
rasa hormat yang munafik, "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia
sedang berbuat zina. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari
perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"16
Penghormatan mereka yang munafik itu
menyelubungi rencana jahat untuk menjatuhkan-Nya. Andaikata Ia membebaskan
wanita itu, Ia pasti akan dituduh meremehkan hukum Musa. Sekiranya Ia
menyatakan bahwa wanita itu pantas dibunuh, Ia dapat dituduh di hadapan pejabat
Roma mengambil alih kekuasaan yang hanya dimiliki mereka.
=================================================================
<MI>"Marilah, baiklah kita
berperkara! - firman Tuhan - Sekalipun dosamu
merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun
berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."<MD>17
=================================================================
Yesus mengamati suasana saat itu -- korban
yang gemetar karena rasa malu, Pemuka-pemuka yang berwajah seram, bahkan tanpa
rasa peri kemanusiaan. Roh kemurnian-Nya yang tak bernoda itu terhenyak oleh
keadaan itu. Seakan-akan tidak mendengar pertanyaan itu, Ia membungkuk dan
memusatkan pandangan ke tanah, lalu mulai menulis di atas debu.
Tidak sabar atas penundaan dan
ketidakacuhan-Nya, para penuduh itu datang mendekat dan mendesak agar masalah
itu diperhatikan-Nya. Tetapi sementara mata mereka mengikuti mata Yesus
memandang lantai di kaki-Nya, mereka terdiam. Di situ, terurai di hadapan
mereka, dosa-dosa rahasia dalam kehidupan mereka sendiri.
Ia berdiri dan memandang tajam kepada
tua-tua yang berniat jahat itu, lalu berkata: "Barangsiapa di antara kamu
tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan
itu."18 Lalu Ia kembali membungkuk dan terus menulis.
Ia tidak mengesampingkan hukum Musa atau
melanggar kekuasaan Roma. Para penuduh itu kalah. Sekarang, dengan jubah
kekudusan yang munafik itu dirobek dari tubuh mereka, mereka berdiri dengan
rasa bersalah dan terhukum, di hadapan kesucian yang tak terhingga. Mereka
gemetar ketakutan kalau-kalau kejahatan yang tersembunyi dalam kehidupannya
dinyatakan di hadapan khalayak ramai, maka dengan kepala tertunduk dan mata
yang sayu satu per satu mereka beringsut meninggalkan korbannya bersama
Juruselamat yang penuh belas kasihan.
Yesus bangkit lalu memandang wanita itu dan
bertanya, "Hai perempuan, di manakah mereka. Tidak adakah seorang yang
menghukum engkau? Jawabnya, Tidak ada Tuhan. Lalu kata Yesus, Akupun tidak
menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi, mulai
sekarang."19
Perempuan itu gemetar ketakutan berdiri di
hadapan Yesus. Ucapan Yesus "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa,
hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu," baginya
adalah suatu vonis hukuman mati. Dia tidak berani mengangkat muka memandang
wajah Yesus, tetapi dengan berdiam diri dia menantikan kebinasaannya. Dalam
keheranan dia memperhatikan para penuduhnya
beranjak kesal tanpa berbicara; kemudian
kata-kata pengharapan terdengar di telinganya, "Akupun tidak menghukum
engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi, mulai dari sekarang."
Hatinya hancur, dan sambil bersujud di kaki Yesus dia menyatakan kasih dan rasa
syukurnya dengan menangis, dengan air mata kepahitan dia mengakui dosa-dosanya.
Baginya itulah permulaan satu kehidupan
yang baru, satu kehidupan penuh
kemurnian dan damai, yang dipasrahkan kepada Allah. Dalam mengangkat jiwa yang
tenggelam ini Yesus melakukan satu mukjizat yang lebih besar dari penyembuhan
sakit jasmani yang paling gawat; Ia menyembuhkan penyakit rohani yang dapat
mengakibatkan kematian kekal. Perempuan yang bersalah ini menjadi salah seorang
pengikut-Nya yang paling setia. Dengan kasih dan pengabdian yang tidak
mementingkan diri dia menunjukkan rasa bersyukurnya atas kemurahan-Nya yang
mengampuni itu. Bagi perempuan yang bersalah ini dunia hanya mempersalahkan dan
mencaci maki, tetapi Orang yang Tidak Berdosa itu merasa iba atas kelemahannya
dan mengulurkan tangan menolong dia. Sementara orang Farisi mencelanya, Yesus
menyuruh dia, "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi."
Yesus mengetahui keadaan setiap jiwa. Lebih
besar kesalahan orang berdosa itu, lebih banyak dia membutuhkan Juruselamat.
Hati-Nya yang penuh kasih ilahi dan rasa simpati itu dicurahkan paling banyak
bagi orang yang paling tidak berdaya terikat dalam jerat musuh. Dengan
darah-Nya sendiri Ia telah menandatangani berkas-berkas persamaan hak dari kaum
itu.
Yesus tidak menginginkan mereka yang sudah
dibeli-Nya dengan harga yang begitu mahal menjadi buruan penggodaan musuh. Ia
tidak ingin kalau kita dikalahkan dan binasa. Ia yang telah menutup mulut singa
di lubangnya dan telah berjalan-jalan di dalam nyala api bersama para saksi-Nya
yang setia, tetap bersedia bekerja bagi kita untuk mengalahkan setiap kejahatan
dalam diri kita. Sekarang ini Ia sedang berdiri di hadapan mezbah kemurahan, di
hadapan Allah menghadapkan doa mereka yang menginginkan pertolongan-Nya. Ia
tidak pernah mengusir orang yang menangis karena hati hancur. Dengan bebas Ia
akan mengampuni semua orang yang datang kepada-Nya meminta keampunan dan
pemulihan. Ia tidak memberitahukan kepada seorang pun semua yang akan
dinyatakan-Nya, tetapi Ia menyuruh setiap jiwa yang gemetar supaya memberanikan
hati. Barangsiapa yang mau boleh memegang kekuatan Allah, dan berdamai
dengan-Nya, dan Ia akan mengadakan perdamaian.
Jiwa-jiwa yang berpaling kepadanya meminta
perlindungan, Yesus mengangkatnya lebih tinggi daripada lidah-lidah yang
menuduh dan memusuhi. Tidak ada manusia atau pun malaikat jahat yang dapat
mendakwa jiwa-jiwa ini. Kristus merangkul mereka kepada sifat
kemanusiaan-ilahi-Nya sendiri. Mereka berdiri di samping Penanggung Dosa yang
agung itu di dalam cahaya yang terpancar dari takhta Allah.
Darah Yesus Kristus menyucikan kita
"dari segala dosa."20
"Siapakah yang akan menggugat
orang-orang pilihan Allah? Allah, yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus,
yang telah mati? Bahkan lebih lagi, yang telah bangkit, yang juga duduk di
sebelah kanan Allah, yang malah menjadi pembela bagi kita?"21
Kristus telah menunjukkan bahwa Ia
menguasai sepenuhnya angin dan gelombang, maupun orang-orang yang dirasuk
Setan. Ia yang sudah mendiamkan angin ribut dan menenangkan lautan yang
bergelora, Dialah yang mengucapkan kedamaian kepada pikiran-pikiran yang
dikacaukan dan dikuasai oleh Setan.
Dalam rumah sembahyang di Kapernaum itu
Yesus sedang berbicara tentang misi-Nya untuk membebaskan hamba-hamba dosa. Ia
diganggu oleh satu teriakan yang mengerikan. Seorang gila berlari dari antara
orang banyak, sambil berteriak, "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus
orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau:
Yang Kudus dari Allah." Mrk 1:24.
Yesus menengking setan itu, dengan berkata,
"'Diam, keluarlah dari padanya!' Dan setan itu pun menghempaskan orang itu
ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak
menyakitinya." Lukas 4:35.
Penyebab penderitaan orang ini adalah juga kehidupannya sendiri. Dia
telah terbuai dengan kesenangan dosa dan berpikir menjadikan hidupnya sebagai
suatu pesta pora. Kebiasaan tidak bertarak dan kelakuan sembrono menyelewengkan
sifat mulia dalam dirinya, dan Setan menguasai dirinya sepenuhnya. Penyesalan muncul terlambat. Ketika dia mau mengorbankan kekayaan dan
kesenangan untuk memperoleh kembali keberaniannya yang hilang, dia menjadi tak
berdaya dalam genggaman si jahat.
Di hadapan Juruselamat dia tergugah untuk
merindukan kebebasan, tetapi Setan menolak kuasa Kristus. Ketika orang itu
mencoba memohon pertolongan Yesus, roh jahat itu menempatkan kata-kata dalam mulutnya, dan berteriak dalam
penderitaan penuh ketakutan. Orang yang dirasuk Setan itu menyadari sebagian
bahwa dia berada di hadapan Seorang yang dapat membebaskannya; tetapi pada
waktu dia mencoba untuk datang ke dalam jangkauan tangan yang perkasa itu, satu
keinginan lain menahannya, dan mengalirlah kata-kata lain dari mulutnya.
Peperangan antara kuasa Setan dan
keinginannya sendiri akan kebebasan sangat mengerikan. Nampaknya orang
teraniaya itu harus kehilangan nyawanya sewaktu bergumul melawan musuh yang
telah merusak keberaniannya. Tetapi Juruselamat berbicara dengan kuasa untuk
membebaskan tawanan itu. Orang yang sudah dikuasai itu berdiri di hadapan orang
banyak yang keheranan itu dalam kemerdekaan penguasaan dirinya.
Dengan suara gembira dia memuji Allah
karena telah dibebaskan. Mata yang tadinya melotot karena kegilaan sekarang
berbinar dengan kecakapan dan digenangi air mata kegirangan. Orang banyak itu
terperangah dengan heran. Segera setelah dapat berbicara, mereka berseru kepada
satu sama lain, "Apakah ini? Satu ajaran baru! Ia berkata-kata dengan
kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya."22
Sangat banyak orang sekarang ini benar-benar di bawah roh-roh jahat
seperti orang yang dirasuk Setan di Kapernaum itu. Orang
yang berpisah dari hukum-hukum Allah sedang menempatkan dirinya di bawah kuasa
Setan. Banyak orang rusak karena kejahatan dan merasa bahwa dia dapat
melepaskan diri semaunya; tetapi dia semakin terpikat, sampai didapatinya
dirinya dikuasai oleh satu kuasa yang lebih kuat daripadanya. Dia tidak dapat
melepaskan diri dari kuasa yang misterius itu. Dosa rahasia atau nafsu utama
dapat menguasai dia sebagai tawanan yang sama tidak berdaya seperti orang gila
di Kapernaum itu.
Namun kondisinya bukannya tanpa harapan. Allah tidak menguasai pikiran
kita tanpa persetujuan kita; tetapi setiap orang bebas memilih kuasa manakah
yang ia kehendaki menguasainya. Tidak ada yang jatuh terlalu dalam,
tidak ada yang terlalu keji, tetapi mereka boleh mendapatkan kelepasan di dalam
Kristus. Orang gila itu hanya dapat mengucapkan kata-kata Setan gantinya
berdoa; namun kerinduan hati yang tak terucapkan itu didengar. Tidak ada
jeritan sukma yang tidak diperhatikan walaupun itu gagal diungkapkan dengan
kata-kata. Mereka yang setuju memasuki perjanjian dengan Allah tidak
ditinggalkan kepada kuasa Setan atau kepada kelemahan diri sendiri.
"Dapatkah direbut kembali jarahan dari
pahlawan atau dapatkah lolos tawanan orang gagah? . . . Beginilah firman Tuhan:
tawanan pahlawan pun dapat direbut kembali, dan jarahan orang gagah dapat
lolos, sebab Aku sendiri melawan orang yang melawan engkau dan Aku sendiri
menyelamatkan anak-anakmu."23
=================================================================
<UD>"Katakanlah kepada mereka;
Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, aku tidak berkenan kepada
kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu
dari kelakuannya supaya ia hidup."24 "Tetapi jika kamu anggap tidak
baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu
akan beribadah; . . . Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada
Tuhan<D>."25
=================================================================
Sangat mengherankan perubahan yang terjadi
dalam diri orang yang oleh iman membuka pintu hatinya kepada Juruselamat.
<UD>"Aku Memberikan Kuasa
Kepadamu"<D>
Sebagaimana kedua belas rasul, ketujuh
puluh murid yang diutus Kristus kemudian itu menerima anugerah ajaib sebagai
sebuah stempel dari misi mereka. Setelah menyelesaikan pekerjaan, mereka
kembali dengan gembira, katanya, "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada
kami demi nama-Mu." Lalu kata Yesus kepada mereka, "Aku melihat Iblis
jatuh seperti kilat dari langit."26
Sejak itu para pengikut Kristus memandang
Setan sebagai satu musuh yang sudah dikalahkan. Di kayu palang, Yesus harus
memperoleh kemenangan demi mereka; kemenangan yang Ia inginkan supaya mereka
terima sebagai milik sendiri. Kata-Nya, "Sesungguhnya Aku telah memberikan
kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan
kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang
akan membahayakan kamu."27
Kemahakuasaan Roh Kudus adalah pertahanan
dari setiap jiwa yang menyesal sungguh-sungguh. Tidak ada orang yang di dalam
penyesalan dan iman menuntut perlindungan-Nya akan dibiarkan Kristus berjalan
di bawah kuasa musuh itu. Memang benar Setan adalah makhluk yang berkuasa,
tetapi berterima kasihlah kepada Allah karena kita mempunyai Juruselamat yang
perkasa, yang telah mengusir si jahat dari surga. Setan senang kalau kita
membesar-besarkan kuasanya. Mengapa tidak membicarakan tentang Yesus? Mengapa
tidak membesar-besarkan kuasa dan kasih-Nya?
Pelangi perjanjian yang melingkari takhta
di atas adalah kesaksian kekal bahwa "Karena begitu besar kasih Allah akan
dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal."28 Ayat ini menyaksikan kepada seluruh alam semesta bahwa Allah
tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya dalam pergumulan melawan si jahat. Itu
adalah suatu jaminan bagi kita akan kekuatan dan perlindungan selama takhta itu
sendiri tetap ada.

No comments:
Post a Comment
Mohon Tinggalkan komentar saran, kritik, tambahan dan tanggapan anda, sebelum anda keluar dari blog ini dan terima kasih anda telah berkunjung.