ads by Google

Klik disini

Floating Vertical Bar With Share Buttons widget by muammarkhalid

Friday, October 28, 2016

PENYEMBUHAN JIWA

5

PENYEMBUHAN JIWA

Banyak dari mereka yang datang kepada Kristus untuk memohon pertolongan sebenarnya mereka sendiri yang telah menimbulkan penyakit itu pada diri mereka. Namun Ia tidak menolak untuk menyembuhkan mereka. Pada waktu khasiat dari pada-Nya memasuki jiwa-jiwa ini, mereka diyakinkan akan dosa, dan banyak disembuhkan dari penyakit rohani mereka sebagaimana juga penyakit jasmani.

Di antara mereka ini terdapat orang lumpuh di Kapernaum. Seperti orang kusta itu, orang lumpuh ini telah kehilangan harapan untuk sembuh. Penyakitnya itu disebabkan kehidupan yang penuh dosa, dan penderitaannya semakin pahit oleh penyesalan yang dalam. Sia-sia dia memohon kesembuhan dari orang-orang Farisi dan para dokter; mereka menyatakan dia tak dapat disembuhkan, mereka mencela dia sebagai seorang berdosa dan menyatakan dia akan mati di bawah murka Allah.

Orang lumpuh itu telah tenggelam dalam keputusasaan. Lalu dia mendengar tentang pekerjaan yang dilakukan Yesus. Orang-orang lain yang sama berdosa dan tak berdaya seperti dirinya telah disembuhkan, dan dia dikuatkan untuk percaya bahwa dirinya juga bisa disembuhkan sekiranya dia dapat dibawa kepada Juruselamat itu. Namun pengharapannya pudar ketika dia mengingat penyebab penyakitnya, namun dia tidak dapat menyisihkan kemungkinan kesembuhan itu.

Kerinduannya yang besar adalah kelepasan dari beban dosa itu. Dia rindu melihat Yesus dan menerima jaminan pengampunan serta didamaikan dengan surga. Maka dia akan merasa puas apakah akan hidup atau mati, sesuai dengan kehendak Allah.

Tidak ada waktu yang terbuang; tubuhnya yang lunglai itu menunjukkan tanda-tanda kematian. Dia memohon kepada kawan-kawannya agar membawa dia kepada Yesus sambil terbaring di atas tempat tidurnya, dan dengan gembira mereka melakukannya. Namun kerumunan orang begitu padat di dalam dan di sekitar rumah di mana Juruselamat berada, sehingga mustahil bagi orang sakit itu dan kawan-kawannya untuk sampai kepada-Nya, atau bahkan masuk untuk mendengar suara-Nya. Yesus sedang mengajar di rumah Petrus. Menurut kebiasaan mereka, murid-murid-Nya duduk dekat dengan-Nya, dan "ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari berbagai desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem."1 Banyak dari mereka ini yang datang sebagai mata-mata, mencari suatu tuduhan terhadap Yesus. Selain mereka, orang banyak berkerumun dan bercampur aduk, orang yang mempunyai keinginan bertemu, orang yang menaruh hormat, orang yang ingin tahu, dan orang yang tak percaya. Kebangsaan yang berbeda-beda serta semua lapisan masyarakat terwakili di sana. "Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit."2 Roh kehidupan menguasai kumpulan itu, namun orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu tidak melihat hadirat-Nya. Mereka tidak merasakan sesuatu kebutuhan, maka penyembuhan itu tidaklah diperuntukkan bagi mereka. "Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa."3

Berulang-ulang para pengusung orang lumpuh ini berusaha mendesak maju melewati kerumunan orang banyak itu, namun sia-sia. Orang yang sakit itu memandang ke sekeliling dirinya dengan keluhan yang tak terucapkan. Bagaimana dia dapat melepaskan pengharapan itu padahal pertolongan yang telah lama dirindukan itu begitu dekat? Atas anjurannya sahabat-sahabatnya mengangkut dia ke atap rumah, membobol atap itu, lalu menurunkannya di depan kaki Yesus.

Khotbah itu terganggu. Juruselamat memandang wajah yang penuh duka dan melihat mata yang memohon itu tertuju kepada-Nya. Ia tahu betul akan kerinduan dari jiwa yang menanggung beban itu. Kristuslah yang telah mendatangkan keyakinan kepada hati nurani orang lumpuh itu bahkan selagi dia masih berada di rumah. Pada waktu dia bertobat dari dosa-dosanya dan percaya akan kuasa Yesus yang dapat menyembuhkannya, rahmat Juruselamat telah memberkati hatinya. Yesus telah memperhatikan cahaya iman yang mula-mula redup itu bertumbuh menjadi suatu keyakinan bahwa Ia adalah satu-satunya penolong orang berdosa itu, dan telah melihat iman itu bertumbuh semakin kuat bersamaan dengan setiap usaha untuk datang ke hadirat-Nya. Kristuslah yang telah menarik si penderita itu datang kepada-Nya. Sekarang, dengan kata-kata yang bagaikan musik di telinga pendengar-Nya itu, Juruselamat berkata, "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."4

Beban rasa bersalah bergulir dari jiwa orang sakit itu. Dia tidak dapat meragukannya. Kata-kata Kristus memperlihatkan kuasa-Nya untuk menyelami hati. Siapa yang dapat menyangkal kuasa-Nya untuk mengampuni dosa? Pengharapan menggantikan keputusasaan, dan kesukaan menggantikan kemurungan yang menekan. Rasa sakit orang itu pun hilang, dan seluruh tubuhnya telah berubah. Tanpa melanjutkan permohonannya, dia terbaring diam dalam damai, terlalu gembira untuk berkata-kata.

Banyak yang memperhatikan dengan terkesima setiap gerakan dari perbuatan yang ganjil ini. Banyak yang merasa bahwa kata-kata Kristus adalah suatu undangan kepada mereka. Bukankah mereka orang-orang yang jiwanya sakit karena dosa? Tidakkah mereka juga ingin untuk dilepaskan dari beban ini?

Tetapi orang-orang Farisi, yang takut kehilangan pengaruh mereka atas orang banyak itu, berkata dalam hati, "Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"5

Sambil mengarahkan pandangan mata-Nya kepada mereka yang kini gemetar ketakutan dan mulai mundur, Yesus berkata, "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah mengatakan: Dosamu diampuni, atau mengatakan, Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa--lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"6

Kemudian dia yang telah diusung di atas tandu untuk datang kepada Yesus itu bangkit berdiri dengan kelincahan dan kekuatan masa muda. Dengan segera dia "mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."7

Dibutuhkan tidak kurang dari kuasa penciptaan untuk memulihkan kesehatan tubuh yang telah membusuk itu. Suara yang sama yang memberi kehidupan kepada manusia ketika diciptakan dari debu tanah, telah memberi kehidupan kepada orang lumpuh yang sekarat itu. Kuasa yang sama yang memberi kehidupan kepada tubuh telah membarui hati itu. Ia yang pada saat penciptaan "berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada"8 telah memberi kehidupan kepada jiwa yang mati dalam pelanggaran dan dosa itu. Penyembuhan tubuh adalah suatu bukti dari kuasa yang telah membarui jiwa. Kristus menyuruh orang lumpuh itu untuk bangun dan berjalan, "supaya kamu tahu," Ia berkata, "bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa."

Orang lumpuh itu menemukan dalam Kristus penyembuhan bagi jiwa maupun tubuhnya. Dia memerlukan kesehatan jiwa sebelum dia dapat menghargai kesehatan tubuh. Sebelum penyakit jasmani dapat disembuhkan, Kristus harus mendatangkan kedamaian kepada pikiran, dan membersihkan jiwa dari dosa. Pelajaran ini hendaknya jangan diabaikan. Sekarang ini terdapat ribuan orang yang menderita karena penyakit fisik seperti orang lumpuh itu, merindukan kata-kata pekabaran, "Dosa-dosamu sudah diampuni." Beban dosa, dengan keinginan-keinginannya yang tak pernah berhenti dan tak terpuaskan, adalah dasar dari penyakit-penyakit mereka. Mereka tidak dapat menemukan kelegaan sampai mereka datang kepada Penyembuh jiwa itu. Kedamaian yang Ia saja dapat berikan akan memulihkan kekuatan kepada pikiran dan kesehatan kepada tubuh.

Pengaruh yang ditimbulkan atas orang banyak oleh penyembuhan orang lumpuh itu adalah surga seakan-akan telah terbuka dan menampakkan kemuliaan-kemuliaan dunia yang lebih baik itu. Pada saat orang yang telah disembuhkan itu berjalan melintasi orang banyak itu, memuji Allah pada setiap langkahnya, sambil membawa barang bawaannya yang seakan-akan beratnya seperti sehelai bulu, orang banyak mundur untuk memberi ruang baginya dan dengan wajah yang takjub memandang orang itu, mereka berbisik di antara sesama mereka, "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan."9

Di rumah orang lumpuh itu terjadi satu kesukaan besar sewaktu ia pulang kepada keluarganya, dengan enteng membawa tempat tidur di atas mana dia telah diusung perlahan-lahan dari hadapan mereka beberapa saat yang lalu. Mereka berkumpul berkeliling dengan air mata kegembiraan, hampir tidak berani mempercayai mata mereka. Dia berdiri di depan mereka dengan kekuatan penuh sebagai seorang laki-laki. Lengan-lengan yang tadinya nampak lunglai kini dengan cepat menuruti perintahnya. Daging tubuhnya yang dulu telah mengerut dan pucat kini segar dan kemerah-merahan. Dia berjalan dengan langkah-langkah yang tegar dan bebas. Kesukaan dan pengharapan terbersit pada setiap garis di wajahnya, dan suatu ekspresi kemurnian dan damai menggantikan tanda-tanda dosa dan penderitaan. Ucapan syukur yang penuh kesukaan terdengar dari rumah itu, dan Allah dimuliakan melalui Putra-Nya, yang telah memulihkan pengharapan orang yang tak berdaya itu serta kekuatan kepada yang tertimpa penyakit itu. Orang ini dan keluarganya sudah siap untuk menyerahkan hidup mereka kepada Yesus. Tak ada kebimbangan yang meredupkan iman mereka, tidak ada sifat tak percaya yang mencemari kesetiaan mereka kepada Dia yang telah membawa terang ke dalam rumah mereka yang gelap.

"Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lubang kubur, . . . Sehingga masa mudamu menjadi baru seperti burung raja wali. Tuhan menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas. . . . Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita. . . . Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu."10


<UD>"Maukah Engkau Sembuh?"<D>

"Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan  goncangan air kolam itu."11

Pada saat-saat tertentu, air kolam ini bergoncang, dan biasanya  mereka percaya bahwa ini terjadi sebagai akibat dari kuasa gaib, dan bahwa barangsiapa yang pertama meloncat ke dalam air sewaktu airnya bergoncang, akan disembuhkan dari apa pun penyakit orang itu. Ratusan penderita mengunjungi tempat itu; tetapi pada waktu air itu bergoncang begitu banyak orang yang ingin mendesak ke depan, menginjak laki-laki dan perempuan dan anak-anak yang lebih lemah dari mereka. Banyak yang tidak dapat menghampiri kolam itu. Banyak yang berhasil mendekatinya mati di pinggir kolam itu. Banyak tenda didirikan di tempat itu untuk tempat bernaung agar orang sakit itu terlindung dari terik matahari pada siang hari dan dari cuaca dingin pada malam hari. Ada sebagian yang bermalam di serambi-serambinya, merangkak ke pinggir kolam setiap hari, sia-sia mengharapkan kesembuhan.

Yesus berada di Yerusalem. Berjalan sendirian seolah-olah sedang merenung dan berdoa, Ia datang ke kolam itu. Ia menyaksikan para penderita yang malang itu sedang berjaga menantikan saat yang mereka anggap satu-satunya kesempatan untuk disembuhkan. Ia rindu menjalankan kuasa penyembuhan-Nya dan menyembuhkan setiap penderita. Tetapi hari itu adalah hari Sabat. Orang banyak sedang pergi ke kaabah untuk berbakti, dan Ia tahu bahwa tindakan penyembuhan seperti itu akan menimbulkan prasangka orang Yahudi sehingga dapat mempersingkat pekerjaan-Nya.

Tetapi Juruselamat melihat satu keadaan yang sangat parah. Ada seorang yang lumpuh tidak berdaya sudah berada di sana selama tiga puluh delapan tahun. Penyakitnya itu kebanyakan diakibatkan oleh kebiasaan buruknya sendiri dan dianggap sebagai hukuman dari Allah. Seorang diri tanpa sahabat, merasa dikucilkan dari belas kasihan Allah, penderita ini telah melewati tahun-tahun yang panjang dalam kesengsaraannya. Pada saat air itu akan bergoncang menurut harapan mereka, mereka yang merasa iba pada ketidakberdayaannya akan membawa dia ke serambi. Tetapi pada saat yang tepat tidak ada orang yang menolongnya. Dia telah melihat gelombang air itu, tetapi tidak pernah sanggup untuk beringsut lebih jauh dari pinggir kolam itu. Orang-orang lain yang lebih kuat dari dia akan meloncat ke dalam mendahuluinya. Penderita yang malang itu tidak berhasil bersaing dengan orang banyak yang mementingkan dirinya sendiri dan saling berebutan itu. Usaha yang mati-matian untuk mencapai satu tujuan, dan kerinduan serta kekecewaan yang berkepanjangan dengan cepat menghabiskan sisa tenaganya.

Orang sakit itu tergeletak di atas tikarnya, dan sekali-sekali mengangkat kepalanya melihat ke kolam itu, ketika sebuah wajah lembut membungkuk dan menyapanya dengan rasa iba, "Maukah engkau sembuh?" menguasai perhatiannya. Pengharapan terbit dalam hatinya. Dia merasa dirinya akan tertolong dengan sesuatu cara. Tetapi sinar semangatnya cepat sirna. Dia teringat betapa sering dia berusaha mencapai kolam itu, sekarang dia hanya mempunyai sedikit harapan hidup sebelum kolam itu bergoncang lagi. Dia menoleh sambil berkata, "Tuan, kalau air itu bergoncang, tidak ada orang yang menyeret saya ke dalam kolam itu; tetapi bilamana saya sudah menghampirinya, orang lain akan menginjak saya dan terjun ke kolam itu di hadapan saya."

Yesus katakan kepadanya, "Bangunlah dan angkatlah tilammu dan berjalanlah."12 Dengan suatu harapan baru orang sakit itu menatap wajah Yesus. Penampilan wajah-Nya, kelembutan suara-Nya, berbeda dengan orang yang lain. Kasih dan kuasa nampaknya terhembus dari hadirat-Nya. Iman orang lumpuh itu memegang kata-kata Kristus. Tanpa ragu dia memutuskan dalam hati untuk menurut, dan sementara dia melakukan ini seluruh tubuhnya bereaksi.

Setiap saraf dan otot dirangsang dengan kehidupan baru, dan anggota tubuhnya yang lumpuh itu bergerak dengan sehat. Sambil melompat berdiri dia langsung berjalan dengan langkah yang tegap dan bebas sambil memuji Allah dan bergembira dengan kekuatannya yang baru itu.

Yesus tidak memberikan jaminan pertolongan ilahi kepada orang lumpuh itu. Orang itu mungkin akan berkata, "Tuhan, jikalau engkau menyembuhkan aku, aku akan menurut firman-Mu." Dia mungkin merasa sangsi, dan dengan demikian akan kehilangan kesempatan untuk sembuh. Tetapi tidak, dia percaya perkataan Kristus, percaya bahwa dia akan disembuhkan; segera dia berusaha, dan Allah memberikan kuasa itu; dia ingin berjalan, dan dia bisa berjalan. Dengan melakukan firman Kristus, dia sudah disembuhkan.

Kita telah dipisahkan oleh dosa dari kehidupan Allah. Jiwa kita lumpuh. Kita tidak lebih mampu untuk menghidupkan satu kehidupan yang kudus oleh diri kita sendiri ketimbang orang lumpuh yang dapat berjalan itu. Banyak orang menyadari akan kelemahannya; mereka merindukan kehidupan rohani yang akan menyelaraskan mereka dengan firman Allah dan berjuang untuk memperolehnya. Tetapi sia-sia usahanya. Dalam keputusasaan mereka berseru, "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?"13 Hendaklah orang-orang yang ragu-ragu dan sedang bergumul ini melihat ke atas. Juruselamat sedang membungkuk di atas mereka yang telah dibeli dengan darah-Nya, sambil berkata dengan kelembutan yang tak terkatakan, "Maukah engkau sembuh?" Ia menyuruh engkau supaya bangkit di dalam kesehatan dan kedamaian. Janganlah bertangguh untuk merasakan bahwa engkau sedang disembuhkan. Percayalah pada perkataan Juruselamat itu. Serahkanlah kemauanmu pada pihak Kristus. Kemauan untuk melayani Dia, dan dengan berbuat menurut firman-Nya engkau akan menerima kekuatan. Apapun kejahatan yang engkau sedang praktekkan, hawa nafsu yang melalui pemanjaan berkepanjangan sudah mengikat tubuh maupun jiwa, Kristus rindu dan sanggup untuk melepaskan engkau. Ia akan memberi hidup bagi jiwa yang "mati dalam pelanggaran."14 Ia akan membebaskan tawanan yang terjerat oleh kelemahan dan nasib sial serta rantai dosa.

Perasaan berdosa telah meracuni mata air kehidupan. Tetapi Kristus berkata, "Aku akan mengampuni dosa-dosamu; Aku akan memberikan damai kepadamu. Aku telah membelimu dengan darah-Ku sendiri. Engkau adalah milik-Ku akan menguatkan kemauanmu yang lemah. Aku akan mengikis dosamu yang sudah disesali." Apabila penggodaan menyerangmu, bilamana keluh kesah dan kebingungan mengelilingimu, ketika tertekan dan patah semangat engkau siap menyerah kepada keputusasaan, pandanglah pada Yesus, maka kegelapan yang menyelubungimu akan dihalau oleh cahaya terang hadirat-Nya. Apabila dosa bergumul menguasai jiwamu, dan membebani hati nuranimu, pandanglah kepada Juruselamat. Rahmat-Nya cukup untuk mengalahkan dosa. Biarlah hatimu yang bersyukur itu, yang goyah karena ketidakpastian, berpaling kepada-Nya. Peganglah erat-erat pengharapan yang ada di hadapanmu. Kristus menunggu untuk mengangkat engkau menjadi anggota keluarga-Nya. Kekuatan-Nya akan menolong kelemahanmu. Ia akan menuntun engkau langkah demi langkah. Ulurkanlah tanganmu kepada-Nya, dan biarlah Ia yang menuntunmu.

Janganlah pernah merasa bahwa Kristus itu jauh dari padamu. Ia senantiasa dekat. Hadirat-Nya yang indah itu mengelilingimu. Carilah Dia sebagai Seorang yang ingin engkau temukan. Ia ingin agar engkau bukan hanya menjamah jubah-Nya, tetapi berjalan bersama Dia dalam hubungan yang tetap.

<UD>"Pergilah, dan Jangan Berbuat Dosa Lagi"<U>

Pesta Pondok Daunan sudah selesai. Para Imam dan rabi di Yerusalem telah dikalahkan dalam rencana mereka menangkap Yesus, dan pada waktu malam tiba, "Lalu mereka pulang masing-masing ke rumahnya, tetapi Yesus pergi ke Bukit Zaitun."15

Dari kegemparan dan kekacauan di kota itu, dari kerumunan orang banyak yang gembira dan para rabi yang curang, Yesus pergi ke rumpun pohon zaitun yang tenang, di mana Ia dapat menyendiri bersama Allah. Tetapi pagi-pagi buta Ia kembali ke Kaabah; sementara orang-orang berkerumun sekeliling-Nya, Ia duduk dan mengajar mereka.

Tidak lama kemudian Ia terusik. Sekelompok Farisi dan ahli Taurat menghampiri-Nya, sambil menyeret seorang wanita yang ketakutan, yang dengan suara lantang dituduh telah melanggar hukum ketujuh. Setelah mendorong dia ke hadapan Yesus, mereka berkata dengan memperlihatkan rasa hormat yang munafik, "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zina. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"16

Penghormatan mereka yang munafik itu menyelubungi rencana jahat untuk menjatuhkan-Nya. Andaikata Ia membebaskan wanita itu, Ia pasti akan dituduh meremehkan hukum Musa. Sekiranya Ia menyatakan bahwa wanita itu pantas dibunuh, Ia dapat dituduh di hadapan pejabat Roma mengambil alih kekuasaan yang hanya dimiliki mereka.

=================================================================
<MI>"Marilah, baiklah kita berperkara! - firman Tuhan - Sekalipun dosamu  merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."<MD>17
=================================================================

Yesus mengamati suasana saat itu -- korban yang gemetar karena rasa malu, Pemuka-pemuka yang berwajah seram, bahkan tanpa rasa peri kemanusiaan. Roh kemurnian-Nya yang tak bernoda itu terhenyak oleh keadaan itu. Seakan-akan tidak mendengar pertanyaan itu, Ia membungkuk dan memusatkan pandangan ke tanah, lalu mulai menulis di atas debu.

Tidak sabar atas penundaan dan ketidakacuhan-Nya, para penuduh itu datang mendekat dan mendesak agar masalah itu diperhatikan-Nya. Tetapi sementara mata mereka mengikuti mata Yesus memandang lantai di kaki-Nya, mereka terdiam. Di situ, terurai di hadapan mereka, dosa-dosa rahasia dalam kehidupan mereka sendiri.


Ia berdiri dan memandang tajam kepada tua-tua yang berniat jahat itu, lalu berkata: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."18 Lalu Ia kembali membungkuk dan terus menulis.

Ia tidak mengesampingkan hukum Musa atau melanggar kekuasaan Roma. Para penuduh itu kalah. Sekarang, dengan jubah kekudusan yang munafik itu dirobek dari tubuh mereka, mereka berdiri dengan rasa bersalah dan terhukum, di hadapan kesucian yang tak terhingga. Mereka gemetar ketakutan kalau-kalau kejahatan yang tersembunyi dalam kehidupannya dinyatakan di hadapan khalayak ramai, maka dengan kepala tertunduk dan mata yang sayu satu per satu mereka beringsut meninggalkan korbannya bersama Juruselamat yang penuh belas kasihan.

Yesus bangkit lalu memandang wanita itu dan bertanya, "Hai perempuan, di manakah mereka. Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawabnya, Tidak ada Tuhan. Lalu kata Yesus, Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi, mulai sekarang."19

Perempuan itu gemetar ketakutan berdiri di hadapan Yesus. Ucapan Yesus "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu," baginya adalah suatu vonis hukuman mati. Dia tidak berani mengangkat muka memandang wajah Yesus, tetapi dengan berdiam diri dia menantikan kebinasaannya. Dalam keheranan dia memperhatikan para penuduhnya
beranjak kesal tanpa berbicara; kemudian kata-kata pengharapan terdengar di telinganya, "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi, mulai dari sekarang." Hatinya hancur, dan sambil bersujud di kaki Yesus dia menyatakan kasih dan rasa syukurnya dengan menangis, dengan air mata kepahitan dia mengakui dosa-dosanya.

Baginya itulah permulaan satu kehidupan yang baru, satu kehidupan  penuh kemurnian dan damai, yang dipasrahkan kepada Allah. Dalam mengangkat jiwa yang tenggelam ini Yesus melakukan satu mukjizat yang lebih besar dari penyembuhan sakit jasmani yang paling gawat; Ia menyembuhkan penyakit rohani yang dapat mengakibatkan kematian kekal. Perempuan yang bersalah ini menjadi salah seorang pengikut-Nya yang paling setia. Dengan kasih dan pengabdian yang tidak mementingkan diri dia menunjukkan rasa bersyukurnya atas kemurahan-Nya yang mengampuni itu. Bagi perempuan yang bersalah ini dunia hanya mempersalahkan dan mencaci maki, tetapi Orang yang Tidak Berdosa itu merasa iba atas kelemahannya dan mengulurkan tangan menolong dia. Sementara orang Farisi mencelanya, Yesus menyuruh dia, "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi."

Yesus mengetahui keadaan setiap jiwa. Lebih besar kesalahan orang berdosa itu, lebih banyak dia membutuhkan Juruselamat. Hati-Nya yang penuh kasih ilahi dan rasa simpati itu dicurahkan paling banyak bagi orang yang paling tidak berdaya terikat dalam jerat musuh. Dengan darah-Nya sendiri Ia telah menandatangani berkas-berkas persamaan hak dari kaum itu.

Yesus tidak menginginkan mereka yang sudah dibeli-Nya dengan harga yang begitu mahal menjadi buruan penggodaan musuh. Ia tidak ingin kalau kita dikalahkan dan binasa. Ia yang telah menutup mulut singa di lubangnya dan telah berjalan-jalan di dalam nyala api bersama para saksi-Nya yang setia, tetap bersedia bekerja bagi kita untuk mengalahkan setiap kejahatan dalam diri kita. Sekarang ini Ia sedang berdiri di hadapan mezbah kemurahan, di hadapan Allah menghadapkan doa mereka yang menginginkan pertolongan-Nya. Ia tidak pernah mengusir orang yang menangis karena hati hancur. Dengan bebas Ia akan mengampuni semua orang yang datang kepada-Nya meminta keampunan dan pemulihan. Ia tidak memberitahukan kepada seorang pun semua yang akan dinyatakan-Nya, tetapi Ia menyuruh setiap jiwa yang gemetar supaya memberanikan hati. Barangsiapa yang mau boleh memegang kekuatan Allah, dan berdamai dengan-Nya, dan Ia akan mengadakan perdamaian.

Jiwa-jiwa yang berpaling kepadanya meminta perlindungan, Yesus mengangkatnya lebih tinggi daripada lidah-lidah yang menuduh dan memusuhi. Tidak ada manusia atau pun malaikat jahat yang dapat mendakwa jiwa-jiwa ini. Kristus merangkul mereka kepada sifat kemanusiaan-ilahi-Nya sendiri. Mereka berdiri di samping Penanggung Dosa yang agung itu di dalam cahaya yang terpancar dari takhta Allah.

Darah Yesus Kristus menyucikan kita "dari segala dosa."20

"Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi, yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi pembela bagi kita?"21

Kristus telah menunjukkan bahwa Ia menguasai sepenuhnya angin dan gelombang, maupun orang-orang yang dirasuk Setan. Ia yang sudah mendiamkan angin ribut dan menenangkan lautan yang bergelora, Dialah yang mengucapkan kedamaian kepada pikiran-pikiran yang dikacaukan dan dikuasai oleh Setan.

Dalam rumah sembahyang di Kapernaum itu Yesus sedang berbicara tentang misi-Nya untuk membebaskan hamba-hamba dosa. Ia diganggu oleh satu teriakan yang mengerikan. Seorang gila berlari dari antara orang banyak, sambil berteriak, "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Mrk 1:24.

Yesus menengking setan itu, dengan berkata, "'Diam, keluarlah dari padanya!' Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya." Lukas 4:35.

Penyebab penderitaan orang ini adalah juga kehidupannya sendiri. Dia telah terbuai dengan kesenangan dosa dan berpikir menjadikan hidupnya sebagai suatu pesta pora. Kebiasaan tidak bertarak dan kelakuan sembrono menyelewengkan sifat mulia dalam dirinya, dan Setan menguasai dirinya sepenuhnya. Penyesalan muncul terlambat. Ketika dia mau mengorbankan kekayaan dan kesenangan untuk memperoleh kembali keberaniannya yang hilang, dia menjadi tak berdaya dalam genggaman si jahat.

Di hadapan Juruselamat dia tergugah untuk merindukan kebebasan, tetapi Setan menolak kuasa Kristus. Ketika orang itu mencoba memohon pertolongan Yesus, roh jahat itu menempatkan kata-kata  dalam mulutnya, dan berteriak dalam penderitaan penuh ketakutan. Orang yang dirasuk Setan itu menyadari sebagian bahwa dia berada di hadapan Seorang yang dapat membebaskannya; tetapi pada waktu dia mencoba untuk datang ke dalam jangkauan tangan yang perkasa itu, satu keinginan lain menahannya, dan mengalirlah kata-kata lain dari mulutnya.

Peperangan antara kuasa Setan dan keinginannya sendiri akan kebebasan sangat mengerikan. Nampaknya orang teraniaya itu harus kehilangan nyawanya sewaktu bergumul melawan musuh yang telah merusak keberaniannya. Tetapi Juruselamat berbicara dengan kuasa untuk membebaskan tawanan itu. Orang yang sudah dikuasai itu berdiri di hadapan orang banyak yang keheranan itu dalam kemerdekaan penguasaan dirinya.

Dengan suara gembira dia memuji Allah karena telah dibebaskan. Mata yang tadinya melotot karena kegilaan sekarang berbinar dengan kecakapan dan digenangi air mata kegirangan. Orang banyak itu terperangah dengan heran. Segera setelah dapat berbicara, mereka berseru kepada satu sama lain, "Apakah ini? Satu ajaran baru! Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya."22

Sangat banyak orang sekarang ini benar-benar di bawah roh-roh jahat seperti orang yang dirasuk Setan di Kapernaum itu. Orang yang berpisah dari hukum-hukum Allah sedang menempatkan dirinya di bawah kuasa Setan. Banyak orang rusak karena kejahatan dan merasa bahwa dia dapat melepaskan diri semaunya; tetapi dia semakin terpikat, sampai didapatinya dirinya dikuasai oleh satu kuasa yang lebih kuat daripadanya. Dia tidak dapat melepaskan diri dari kuasa yang misterius itu. Dosa rahasia atau nafsu utama dapat menguasai dia sebagai tawanan yang sama tidak berdaya seperti orang gila di Kapernaum itu.

Namun kondisinya bukannya tanpa harapan. Allah tidak menguasai pikiran kita tanpa persetujuan kita; tetapi setiap orang bebas memilih kuasa manakah yang ia kehendaki menguasainya. Tidak ada yang jatuh terlalu dalam, tidak ada yang terlalu keji, tetapi mereka boleh mendapatkan kelepasan di dalam Kristus. Orang gila itu hanya dapat mengucapkan kata-kata Setan gantinya berdoa; namun kerinduan hati yang tak terucapkan itu didengar. Tidak ada jeritan sukma yang tidak diperhatikan walaupun itu gagal diungkapkan dengan kata-kata. Mereka yang setuju memasuki perjanjian dengan Allah tidak ditinggalkan kepada kuasa Setan atau kepada kelemahan diri sendiri.

"Dapatkah direbut kembali jarahan dari pahlawan atau dapatkah lolos tawanan orang gagah? . . . Beginilah firman Tuhan: tawanan pahlawan pun dapat direbut kembali, dan jarahan orang gagah dapat lolos, sebab Aku sendiri melawan orang yang melawan engkau dan Aku sendiri menyelamatkan anak-anakmu."23

=================================================================
<UD>"Katakanlah kepada mereka; Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup."24 "Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; . . . Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan<D>."25
=================================================================

Sangat mengherankan perubahan yang terjadi dalam diri orang yang oleh iman membuka pintu hatinya kepada Juruselamat.


<UD>"Aku Memberikan Kuasa Kepadamu"<D>

Sebagaimana kedua belas rasul, ketujuh puluh murid yang diutus Kristus kemudian itu menerima anugerah ajaib sebagai sebuah stempel dari misi mereka. Setelah menyelesaikan pekerjaan, mereka kembali dengan gembira, katanya, "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." Lalu kata Yesus kepada mereka, "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit."26

Sejak itu para pengikut Kristus memandang Setan sebagai satu musuh yang sudah dikalahkan. Di kayu palang, Yesus harus memperoleh kemenangan demi mereka; kemenangan yang Ia inginkan supaya mereka terima sebagai milik sendiri. Kata-Nya, "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga  tidak ada yang akan membahayakan kamu."27

Kemahakuasaan Roh Kudus adalah pertahanan dari setiap jiwa yang menyesal sungguh-sungguh. Tidak ada orang yang di dalam penyesalan dan iman menuntut perlindungan-Nya akan dibiarkan Kristus berjalan di bawah kuasa musuh itu. Memang benar Setan adalah makhluk yang berkuasa, tetapi berterima kasihlah kepada Allah karena kita mempunyai Juruselamat yang perkasa, yang telah mengusir si jahat dari surga. Setan senang kalau kita membesar-besarkan kuasanya. Mengapa tidak membicarakan tentang Yesus? Mengapa tidak membesar-besarkan kuasa dan kasih-Nya?


Pelangi perjanjian yang melingkari takhta di atas adalah kesaksian kekal bahwa "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."28 Ayat ini menyaksikan kepada seluruh alam semesta bahwa Allah tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya dalam pergumulan melawan si jahat. Itu adalah suatu jaminan bagi kita akan kekuatan dan perlindungan selama takhta itu sendiri tetap ada.

No comments:

Post a Comment

Mohon Tinggalkan komentar saran, kritik, tambahan dan tanggapan anda, sebelum anda keluar dari blog ini dan terima kasih anda telah berkunjung.

Klik disini

Pages

Hubungi Kami

Name

Email *

Message *