ads by Google

Klik disini

Floating Vertical Bar With Share Buttons widget by muammarkhalid

Tuesday, November 1, 2016

DOA BAGI ORANG SAKIT

16

DOA BAGI ORANG SAKIT

Kitab Suci mengatakan bahwa "mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu"1; dan kalau ada waktu yang mereka rasakan perlu berdoa, itulah waktu ketika kekuatan hilang dan hidup itu rasanya sedang terlepas dari pegangan mereka. Seringkali mereka yang sehat-sehat melupakan kemurahan ajaib yang diberikan kepada mereka setiap hari, dari tahun ke tahun, dan mereka tidak memuji Allah karena berkat-berkat-Nya. Tetapi bilamana jatuh sakit, barulah teringat pada Allah. Bilamana kekuatan manusia hilang, manusia baru merasa perlunya pertolongan ilahi. Dan tidak pernah Allah kita yang pemurah itu berpaling dari jiwa yang sungguh-sungguh mencari pertolongan-Nya. Dialah perlindungan pada waktu sakit dan waktu sehat.

"Seperti bapa sayang pada anak-anaknya, demikian tuhan sayang pada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat bahwa kita ini debu."2

"Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka; mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut."3

"Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesengsaraan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka. Disampaikan firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur."4

Allah bersedia memulihkan kesehatan orang sakit sekarang ini sama seperti ketika Roh Kudus mengucapkan kata-kata ini melalui pemazmur. Dan Kristus adalah tabib yang berbelas kasihan sekarang ini sama seperti selama pelayanan-Nya di dunia ini. Dalam diri-Nya ada balsem penyembuh untuk segala macam penyakit, dan kuasa yang memulihkan bagi setiap kelemahan. Murid-murid-Nya sekarang ini harus berdoa bagi orang sakit sama seperti murid-murid-Nya pada zaman dulu itu berdoa. Kesembuhan akan menyusul, karena "doa yang diucapkan dalam iman akan menyelamatkan orang sakit." Kita memiliki kuasa Roh Kudus, jaminan iman yang pasti, yang dapat menuntut janji-janji Allah. Tuhan berjanji: "Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh,"5 dan janji ini dapat dipercaya sekarang ini sama seperti pada zaman rasul-rasul. Kuasa itu menyatakan kesempatan anak-anak Allah, dan iman kita harus berpaut pada semua yang dicakupnya. Hamba-hamba Kristus adalah saluran pekerjaan-Nya, dan melalui mereka itu Ia ingin menjalankan kuasa penyembuhan-Nya. Adalah tugas kita untuk membawa orang sakit dan menderita kepada Allah dalam lengan iman kita. Kita harus mengajar mereka agar percaya pada Penyembuh Yang Agung itu.

Juruselamat mau agar kita membesarkan hati orang sakit, orang yang putus asa dan yang menderita, untuk berpaut pada kekuatan-Nya. Melalui doa dan iman, kamar orang sakit itu dapat diubah menjadi sebuah Betel. Dalam perkataan dan perbuatan, para dokter dan perawat dapat mengucapkan dengan jelas sehingga tidak bisa  disalahtafsirkan, "Allah ada di tempat ini" untuk menyelamatkan, bukan untuk membinasakan. Kristus ingin menyatakan kehadiran-Nya di kamar pasien, memenuhi hati para dokter dan perawat dengan kemanisan kasih-Nya. Kalau kehidupan orang-orang yang melayani si pasien itu sedemikian rupa sehingga Kristus dapat menemani mereka ke sisi tempat tidur pasien, maka akan timbul dalam diri pasien itu keyakinan bahwa Juruselamat yang pemurah itu hadir di situ, dan keyakinan ini dengan sendirinya akan menolong menyembuhkan jiwa raganya.

Allah mendengar doa. Kristus telah mengatakan, "Jika kamu meminta sesuatu kepadaku dalam nama-Ku, Aku akan melakukan-Nya." Sekali lagi Ia katakan, "Barang siapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."6 Jikalau kita hidup sesuai dengan firman-Nya, setiap janji indah yang telah Ia berikan akan digenapi dalam diri kita. Kita tidak layak memperoleh kemurahan-Nya, tetapi kalau kita menyerahkan diri kita kepada-Nya maka Ia menerima kita. Ia akan bekerja untuk dan melalui mereka yang mengikut Dia.

Tetapi hanya kalau kita hidup dalam penurutan akan firman-Nya kita dapat menuntut kegenapan janji-janji-Nya. Pemazmur mengatakan, "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar."7 Jika kita menyerahkan kepada-Nya penurutan yang setengah-setengah hati, janji-janji-Nya itu tidak akan digenapi dalam diri kita.

Dalam firman Allah kita mempunyai petunjuk yang berhubungan dengan doa khusus bagi kesembuhan orang sakit. Tetapi melayangkan doa seperti itu merupakan suatu tindakan yang paling khidmat, dan tidak boleh melakukannya tanpa pertimbangan yang seksama. Dalam banyak kasus doa penyembuhan orang sakit, apa yang disebut iman itu tidak lain dari kepongahan.

Banyak orang yang mendatangkan penyakit bagi diri mereka melalui pemanjaan diri. Mereka tidak hidup sesuai dengan hukum alam atau prinsip-prinsip kesucian yang ketat. Orang-orang lain telah melecehkan hukum kesehatan dalam kebiasaan makan, minum, berpakaian atau pekerjaan mereka. Seringkali ada bentuk kejahatan adalah akibat dari kelemahan pikiran dan tubuh. Sekiranya orang-orang ini memperoleh berkat kesehatan, banyak di antaranya yang akan terus melakukan hal yang sama yaitu pelanggaran hukum alam dan hukum-hukum rohani Allah, dengan anggapan bahwa kalau Allah menyembuhkan mereka sebagai jawaban doa, maka mereka bebas melanjutkan praktik-praktik hidup yang tidak sehat dan memanjakan selera yang salah tanpa pengekangan. Sekiranya Allah mengadakan mukjizat untuk memulihkan kesehatan orang-orang ini, itu berarti Ia mendorong dosa. 

Sia-sialah mengajar orang supaya memandang kepada Allah sebagai penyembuhan kelemahan-kelemahan mereka, kecuali mereka juga diajar untuk meninggalkan praktik-praktik yang tidak menyehatkan. Untuk menerima berkat-Nya sebagai jawaban atas doa, mereka harus berhenti berbuat jahat dan belajar berbuat baik. Lingkungan mereka harus bersih, kebiasaan hidupnya harus benar. Mereka harus hidup selaras dengan hukum Allah, baik hukum alam maupun hukum rohani.


Pengakuan Dosa

Kepada mereka yang ingin berdoa agar kesehatannya pulih seharusnya dijelaskan bahwa pelanggaran terhadap hukum Allah, baik itu hukum alam atau hukum rohani, adalah dosa, dan agar manusia menerima berkat-Nya maka dosa harus diakui dan ditinggalkan.

Kitab suci menganjurkan kita "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kau sembuh."8 Kepada orang yang minta didoakan, hadapkanlah pemikiran ini: "Kita tidak dapat membaca hati, atau mengetahui rahasia kehidupanmu. Hal ini hanya diketahui oleh dirimu dan oleh Allah. Jikalau engkau bertobat dari dosa-dosamu, adalah tugasmu untuk mengakuinya." Dosa yang bersifat pribadi harus diakui kepada Kristus, satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia. Namun "jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil."9 Setiap dosa adalah melawan Allah dan harus diakui kepada-Nya melalui Kristus. Setiap dosa terang-terangan harus diakui pula secara terang-terangan. Kesalahan yang dilakukan terhadap sesamanya haruslah dibereskan dengan orang  kepada siapa kita berbuat kesalahan. Jika ada seseorang yang mencari kesehatan bersalah karena mengucapkan kata yang kasar, kalau mereka telah menanam bibit perselisihan di rumah tangga, dengan tetangga, atau di gereja, dan telah menimbulkan perpecahan dan kerusuhan, jika mereka dengan perbuatan yang salah mereka telah membuat orang lain berdosa, hal-hal ini haruslah diakui di hadapan Allah dan di hadapan mereka yang bersangkutan. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."10

Apabila kesalahan-kesalahan telah diperbaiki, kita dapat menghadapkan kebutuhan orang sakit itu kepada Tuhan dalam iman yang sungguh, sebagaimana Roh-Nya bisa tunjukkan kepada kita. Ia mengenal setiap orang dengan namanya, dan memelihara masing-masing seakan-akan tidak ada lagi orang lain di dunia ini untuk siapa Ia sudah mengaruniakan Putra-Nya yang kekasih itu. Karena begitu besar dan begitu pasti kasih Allah itu, maka orang sakit itu harus didorong untuk percaya pada-Nya dan bergembira. Merisaukan diri sendiri cenderung mengakibatkan kelemahan dan penyakit. Kalau mereka bangkit dari tekanan dan kesusahan, maka harapan kesembuhan akan lebih baik; karena "sesungguhnya mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya."11

Dalam doa bagi orang sakit haruslah diingat bahwa "kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa."12 Kita tidak tahu apakah berkat yang kita inginkan itu adalah yang terbaik atau tidak. Karena itu doa kita harus mencakup pemikiran ini: "Tuhan, Engkau tahu rahasia setiap jiwa. Engkau telah mengenal orang-orang ini. Yesus, Pembela mereka, telah memberikan hidup-Nya bagi mereka. Kasih-Nya bagi mereka, telah lebih besar dari kasih kami. Kalau begitu, kalau demi kemuliaanmu dan kebaikan orang-orang yang menderita, kami mohon, dalam nama Yesus, agar kesehatan mereka dapat dipulihkan, kami mohon agar anugerah-Mu dapat menghibur dan hadirat-Mu dapat mempertahankan mereka dalam penderitaan."

Allah mengetahui akhir dari suatu permulaan. Ia mengenal hati semua orang. Ia membaca setiap rahasia jiwa. Ia tahu apakah mereka yang didoakan itu dapat atau tidak dapat bertahan menghadapi cobaan-cobaan yang akan menimpa mereka sekiranya mereka hidup. Ia tahu apakah hidup mereka akan menjadi berkat atau kutuk bagi mereka sendiri dan bagi dunia ini. Inilah salah satu sebab mengapa sementara kita menghadapkan permohonan dengan sungguh-sungguh kita harus mengatakan: "Bukanlah kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."13 Yesus menambahkan kata-kata penyerahan ini kepada kebijaksanaan dan kehendak Allah ketika berada di Taman Getsemani itu Ia memohon, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku."14 Dan kalau kata-kata itu cocok bagi Dia, Anak Allah, jauh lebih pantas lagi perkataan seperti itu meluncur dari bibir orang-orang berdosa yang fana!

Jalan yang senantiasa ditempuh ialah menyerahkan segala keinginan kita kepada Bapa kita di surga yang bijaksana itu, kemudian dalam keyakinan yang sempurna kita berharap pada-Nya. Kita tahu bahwa Allah mendengar jika kita meminta sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi mendesakkan permohonan kita tanpa roh penyerahan tidaklah benar; doa-doa kita haruslah dalam bentuk pengantaraan, bukan bentuk perintah. 

Ada kasus-kasus di mana Allah melakukan dengan pasti oleh kuasa ilahi-Nya untuk memulihkan kesehatan. Tetapi tidak semua orang sakit disembuhkan. Banyak yang sudah tidur dalam Yesus. Yohanes sewaktu di Pulau Patmos disuruh untuk menuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. Sungguh, kata roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka , karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."15 Dari sini kita melihat bahwa kalau orang tidak disembuhkan, janganlah dengan ini mereka dihakimi sebagai orang yang kurang beriman.

Kita semua menginginkan jawaban yang segera dan langsung kepada doa kita, dan tergoda untuk kecewa bilamana jawaban itu tertunda atau datang dalam bentuk yang tidak diharapkan. Tetapi Allah terlalu bijaksana dan baik untuk selalu menjawab doa kita pada waktunya dan sesuai dengan yang kita inginkan. Ia akan berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi kita daripada memenuhi segala yang kita inginkan. Dan karena kita bisa percaya pada hikmat dan kasih-Nya, maka janganlah kita meminta-Nya untuk terserah kepada kemauan kita, tetapi berusaha untuk menuruti dan melaksanakan maksud-Nya. Keinginan dan kepentingan kita seharusnya hilang di balik kehendak-Nya. Pengalaman-pengalaman yang menguji iman kita ini adalah demi kebaikan kita. Dengan itu dinyatakan apakah iman kita sejati dan tulus, berdasarkan pada firman Allah saja, ataukah bergantung kepada keadaan, bersifat tidak pasti dan berubah-ubah. Iman dikuatkan dengan latihan. Kita harus membiarkan kesabaran melakukannya dengan sempurna, mengingat bahwa ada janji-janji indah dalam Kitab Suci bagi mereka yang menantikan Tuhan.

Tidak semua orang memahami prinsip-prinsip ini. Banyak orang yang mencari kemurahan penyembuhan Tuhan yang berpikir bahwa mereka harus mendapat jawaban secara langsung dan segera terhadap doa-doa mereka, kalau tidak iman mereka cacat. Oleh karena itu, mereka yang sudah dilemahkan oleh penyakit perlu diberi nasihat dengan bijaksana, agar mereka berlaku dengan seksama. Mereka tidak boleh mengabaikan tugasnya terhadap sahabat-sahabat yang bisa mempertahankan mereka terus hidup, atau lalai menggunakan bahan-bahan alami untuk pemulihan kesehatan.

Sering terdapat bahaya kesalahan di sini. Karena percaya mereka akan disembuhkan sebagai jawaban doa, sebagian orang takut melakukan apa saja yang bisa menunjukkan kurangnya iman. Tetapi mereka jangan lalai mengatur urusan-urusan mereka itu sebaik-baiknya sebagaimana mereka ingin lakukan kalau mereka berharap untuk diganti karena kematian. Jangan pula mereka takut mengucapkan kata-kata dorongan atau nasihat yang pada saat perpisahan ingin mereka ucapkan kepada kekasih-kekasih mereka.

Mereka yang mencari kesembuhan dengan doa jangan mengabaikan penggunaan bahan-bahan pengobatan yang ada pada mereka. Bukanlah menyangkal iman kalau menggunakan obat-obat demikian karena Allah telah menyediakannya untuk mengurangi rasa sakit dan membantu alam melaksanakan pekerjaan pemulihannya. Bukanlah menyangkal iman kalau bekerjasama dengan Allah, dan menempatkan diri dalam kondisi yang paling cocok untuk sembuh. Allah telah memberi kuasa kepada kita untuk mengetahui hukum-hukum kehidupan. Pengetahuan ini telah ditempatkan dalam jangkauan kita untuk digunakan. Kita harus menggunakan setiap fasilitas demi pemulihan kesehatan, menggunakan setiap kesempatan yang ada, bekerja sesuai dengan hukum-hukum alam. Apabila kita sudah berdoa untuk kesembuhan orang sakit, kita dapat bekerja mengerahkan segenap kekuatan sambil berterima kasih kepada Allah karena mendapat kesempatan bekerjasama dengan Dia, dan memohon berkat-Nya atas sarana yang Ia sendiri telah sediakan.

Kita mendapat persetujuan dari firman Allah untuk menggunakan bahan-bahan pengobatan. Hizkia, raja Israel, menderita sakit dan seorang nabi Allah membawa pekabaran kepadanya bahwa dia harus mati. Dia berseru kepada Tuhan, dan Tuhan mendengarkan hamba-Nya serta mengirim satu berita bahwa limabelas tahun harus ditambahkan kepada umurnya. Nah, sepatah kata dari Allah dapat langsung menyembuhkan Hizkia; tetapi ada petunjuk khusus diberikan: "Baiklah diambil sebuah kue ara dan di taruh pada barah itu, supaya sembuh!"16

===============================================================

"Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; Dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak sorai; Aku menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN."17

================================================================

Pada satu peristiwa, Kristus mengusap mata seorang buta dengan tanah liat dan menyuruhnya, "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam. . . . Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek."18 Penyembuhan itu dapat saja dilakukan oleh kuasa Penyembuh Agung itu, namun Kristus menggunakan bahan-bahan yang sederhana dari alam. Sementara Ia tidak menyetujui penggunaan obat keras, Ia menyetujui penggunaan obat alami yang sederhana. 

Bilamana kita sudah berdoa untuk kesembuhan orang sakit, apapun hasilnya, janganlah kita kehilangan iman akan Allah. Kalau kita dipanggil untuk menghadapi kesedihan, biarlah kita menerima cawan yang pahit itu, sambil mengingat bahwa tangan Allah yang mengantar cawan itu ke bibir kita. Tetapi seandainya kesehatan dipulihkan, janganlah dilupakan bahwa penerima kemurahan penyembuhan itu berada di bawah kewajiban baru terhadap Khalik. Ketika sepuluh orang kusta itu disembuhkan, hanya seorang yang kembali menemui Yesus dan memuliakan-Nya. Janganlah kiranya ada di antara kita yang seperti sembilan orang kusta yang tidak berpikir itu, yang hatinya tidak dijamah oleh kemurahan Allah. "Setiap pemberian yang baik, dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran."18

No comments:

Post a Comment

Mohon Tinggalkan komentar saran, kritik, tambahan dan tanggapan anda, sebelum anda keluar dari blog ini dan terima kasih anda telah berkunjung.

Klik disini

Pages

Hubungi Kami

Name

Email *

Message *