ads by Google

Klik disini

Floating Vertical Bar With Share Buttons widget by muammarkhalid

Saturday, October 29, 2016

MENOLONG YANG TERNODA

MENOLONG YANG TERGODA

Kristus mengasihi kita bukan karena kita yang lebih dulu mengasihi Dia; tetapi "ketika kita masih berdosa" Ia telah mati bagi kita. Ia tidak memperlakukan kita sesuai dengan ganjaran kita. Sekalipun dosa kita menuntut penghukuman, Ia tidak menghukum kita. Tahun demi tahun Ia menanggung kelemahan dan kebodohan kita, dengan keangkuhan dan penyelewengan kita. Sekalipun kita menyimpang, mengeraskan hati, mengabaikan firman-Nya yang kudus, tangan-Nya tetap diulurkan.

Rahmat adalah sifat Allah yang dikaruniakan kepada umat manusia yang tidak layak. Kita tidak mencarinya, tetapi anugerah itu sendirilah yang mencari kita. Allah senang menganugerahkan rahmat-Nya kepada kita, bukan karena kita layak, tetapi malah karena kita sangat tidak layak. Satu-satunya yang tuntutan kita kepada kemurahan-Nya ialah kebutuhan kita yang besar.

Tuhan Allah melalui Yesus Kristus mengulurkan tangan-Nya sepanjang hari mengundang orang yang berdosa dan telah jatuh. Ia mau menerima semua orang. Ia menyambut semuanya. Adalah kemuliaan bagi-Nya untuk mengampuni orang-orang berdosa. Ia akan membebaskan mangsa dari penguasa dunia, Ia mau membebaskan tawanan, Ia akan menarik puntung dari api. Ia akan menurunkan rantai emas kemurahan-Nya ke kedalaman penderitaan umat manusia, dan mengangkat jiwa yang sudah direndahkan dan dicemari oleh dosa.

Setiap manusia merupakan sasaran perhatian kasih bagi Dia yang telah menyerahkan nyawa-Nya agar dapat mengembalikan manusia kepada Allah. Jiwa-jiwa yang bersalah dan tak berdaya, yang dapat terkena panah dan jerat setan, dipelihara seperti seorang gembala memelihara kawanan dombanya.

Keteladanan Juruselamat harus menjadi standar pelayanan kita bagi orang yang tergoda dan yang bersalah. Perhatian, kelemahlembutan dan kesabaran yang sama yang telah Ia nyatakan terhadap kepada kita, itu juga yang harus kita nyatakan kepada orang lain. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah megasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."1 Jika Kristus tinggal di dalam kita, kita akan menyatakan kasih-Nya yang tidak mementingkan diri itu kepada semua orang yang harus kita layani. Sementara kita memperhatikan pria dan wanita yang membutuhkan simpati dan pertolongan, kita tidak boleh bertanya, "Apakah mereka layak?" tetapi "Bagaimana saya dapat melakukan kebaikan kepada mereka?"

Orang kaya dan yang miskin, terpandang dan yang rendah, merdeka atau hamba, semuanya adalah pusaka Allah. Ia yang telah menyerahkan nyawanya untuk menebus manusia melihat dalam diri setiap manusia satu nilai yang melebihi perhitungan manusia fana. Dengan rahasia dan kemuliaan salib kita harus melihat nilai perhitungan-Nya atas jiwa manusia. Apabila kita menilainya, kita akan merasakan bahwa manusia serendah apapun terlalu bernilai untuk diperlakukan dengan sikap dingin atau hina. Kita harus menyadari betapa penting pekerjaan melayani sesama manusia, agar mereka dapat ditinggikan kepada takhta Allah.

Dalam perumpamaan Juruselamat, mata uang yang hilang itu tetap sebagai sepotong perak walaupun tergeletak di dalam lumpur dan sampah. Pemilik mata uang itu mencarinya karena benda itu bernilai. Begitulah setiap jiwa dianggap bernilai dalam pemandangan Allah betapa pun sudah merosot akibat dosa. Selama mata uang itu memuat gambar dan keterangan tentang penguasanya, nilainya tetap sama, begitulah manusia yang pada penciptaannya menyandang gambar dan keterangan Allah. Sekalipun kini cacat dan dikelamkan oleh pengaruh dosa, bekas-bekas ukiran itu tetap ada pada setiap jiwa. Allah ingin memulihkan jiwa itu dan mengukir kembali citra-Nya dalam kesalehan dan kesucian.

Betapa kecil rasa simpati kita terhadap Kristus sedangkan seharusnya itulah ikatan kesatuan yang paling erat antara kita dengan Dia -- rasa belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang menderita, yang bersalah, jiwa-jiwa yang menderita, bahkan yang mati dalam pelanggaran dan dosa! Dosa kita yang paling besar ialah memperlakukan manusia secara tidak manusiawi. Banyak orang berpendapat bahwa mereka sedang mewakili keadilan Allah padahal mereka sama sekali gagal menunjukkan kelemahlembutan-Nya dan kasih-Nya yang besar. Seringkali orang-orang yang mereka temui dengan wajah murung dan sengsara sedang dilanda tekanan penggodaan. Setan sedang bergumul dengan jiwa-jiwa seperti ini, dan kata-kata yang kasar dan tidak mengandung simpati akan mengecewakan mereka dan membuat mereka jadi mangsa bagi kuasa si penggoda.

Menjamah pikiran adalah satu hal yang rumit. Hanya Dia yang dapat membaca hati itu yang mengetahui bagaimana caranya mengajak orang kepada pertobatan. Hikmat-Nya sajalah yang dapat memberikan kepada kita keberhasilan dalam menjangkau yang hilang. Mungkin engkau bisa berdiri tegak sambil merasa, "Saya lebih suci daripada kamu," namun tidak peduli bagaimana pun tepatnya alasanmu atau betapa pun benar ucapanmu; kata-kata itu tak akan pernah dapat menyentuh hati orang lain. Kasih Kristus yang dinyatakan dengan perkataan dan perbuatan, akan berhasil mencapai jiwa itu, sedangkan mengulangi pemikiran atau perbantahan tidak akan menghasilkan apapun.

Kita membutuhkan lebih banyak rasa simpati Kristus; bukan hanya rasa simpati terhadap mereka yang nampaknya tidak bersalah, tetapi simpati terhadap jiwa-jiwa yang malang, menderita dan sedang bergumul, yang sering jatuh-bangun dalam kesalahan, berdosa dan bertobat, tergoda dan patah semangat. Kita harus mendatangi sesama kita, seperti Imam Besar kita yang berpengasihan itu, yang terjamah dengan perasaan kelemahan-kelemahan mereka.

Orang-orang buangan, pemungut cukai dan orang berdosa, yang dihina bangsa-bangsa, merekalah yang dipanggil oleh Kristus, dan oleh kasih setia-Nya mereka dipaksa datang kepadaNya. Golongan yang Ia tidak pernah akan dipandang-Nya adalah mereka yang berdiri terpisah di dalam gengsi mereka dan memandang rendah  terhadap orang lain.

"Pergilah ke jalan-jalan raya dan lintasan-lintasan, dan paksalah mereka masuk," perintah Kristus kepada kita," agar rumah perjamuan-Ku penuh." Dalam menuruti perintah ini, kita harus pergi ke negeri kafir di sekitar kita dan kepada mereka yang jauh dari kita. Para "pemungut cukai dan pelacur" harus mendengar undangan Juruselamat itu. Melalui kebaikan dan kesabaran para utusan-Nya, undangan itu menjadi suatu kuasa yang memaksa untuk mengangkat mereka yang sudah terbenam jauh di kedalaman dosa.

Motivasi Kristen menuntut agar kita bekerja dengan tujuan yang pasti, dengan perhatian yang tidak memudar dan desakan yang semakin keras, untuk jiwa-jiwa yang hendak dibinasakan oleh Setan. Janganlah ada yang mengendorkan semangat yang sungguh-sungguh bagi keselamatan orang yang tersesat.

Perhatikanlah bagaimana semua orang menunjukkan roh kesungguh-sungguhan melalui firman Allah dalam mengajak pria dan wanita supaya datang kepada Kristus. Kita harus memanfaatkan setiap kesempatan, secara perorangan atau umum, mengemukakan setiap alasan, mendorong setiap motif yang paling kuat, untuk menarik orang-orang kepada Juruselamat. Dengan segala kekuatan, kita harus mendorong mereka supaya memandang kepada Yesus dan menerima kehidupan penyangkalan diri dan pengorbanan-Nya. Kita harus menunjukkan bahwa kita mengharapkan mereka untuk menggembirakan hati Kristus dengan memanfaatkan setiap karunia-Nya dalam menghormati nama-Nya.


Diselamatkan oleh Pengharapan

"Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan." Roma 8:24. Orang-orang yang jatuh ke dalam dosa harus dituntun untuk merasakan bahwa belum terlalu terlambat bagi mereka untuk menjadi laki-laki sejati. Kristus menghormati manusia dengan kepercayaan-Nya dan dengan demikian menempatkan dia dalam kehormatannya. Bahkan mereka yang telah jatuh paling dalam pun diperlakukan Kristus dengan hormat. Adalah satu perasaan sakit yang terus menerus bagi Kristus kalau terpaksa dihadapkan dengan permusuhan, kebejatan dan kecemaran; tetapi Ia tidak pernah mengucapkan satu pernyataan untuk menunjukkan bahwa kepekaan-Nya tersentuh atau perasaan-Nya yang halus itu tersinggung. Apa pun kebiasaan yang jahat, prasangka yang kuat, atau hawa nafsu manusia yang berlebihan, Ia mengatasi semuanya dengan kelemahlembutan yang mengharukan. Kalau kita mengambil bagian dalam Roh-Nya, kita akan menganggap semua orang sebagai saudara kita, dengan godaan-godaan dan cobaan-cobaan yang sama, seringkali jatuh dan berusaha untuk bangkit kembali, bergumul dengan kekecewaan dan kesulitan, merindukan simpati dan pertolongan. Maka kita harus menghadapi mereka bukan dengan cara yang melemahkan atau menolak mereka, melainkan untuk membangkitkan harapan dalam hati mereka. Begitu mereka didorong dengan cara demikian, mereka akan dengan yakin mengatakan, "Jangan bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku. Aku akan memikul kemarahan TUHAN, sebab aku telah berdosa kepada-Nya, sampai Ia memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang, sehingga aku mengalami keadilan-Nya."3

=================================================================
"Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah. Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!"2
=================================================================

Allah "menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian."4

Dalam melayani orang yang tergoda dan bersalah, Ia menyuruh kita supaya "sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan."5 Dengan menyadari kelemahan-kelemahan kita sendiri, kita akan merasa iba atas kelemahan-kelemahan orang lain.

"Sebab siapakah yang menganggap engkau penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?" "Tetapi kamu, janganlah kamu disebut rabi; karena hanya satu rabimu dan kamu semua adalah saudara." "Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu?" "Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi baik kamu menganut pandang ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung."6

Menunjuk kesalahan seseorang selalu memalukan. Jangan ada yang membuat pengalaman itu lebih pahit dengan teguran yang tidak perlu. Tidak ada orang yang pernah ditarik kembali oleh tempelakan; tetapi dengan cara itu banyak orang telah menolak dan semakin mengeraskan hatinya terhadap keyakinan. Roh lemah lembut, perangai yang halus dan menawan, dapat menyelamatkan orang yang bersalah dan menutupi banyak dosa.

Rasul Paulus merasa perlu menegur kesalahan, tetapi betapa berhati-hati dia berusaha menunjukkan bahwa dia adalah sahabat bagi orang yang bersalah! Betapa was-wasnya dia menjelaskan kepada mereka tentang alasan tindakannya! Dia membuat mereka mengerti bahwa sangat menyakitkan untuk menyakiti hati mereka itu. Dia menunjukkan kepercayaan dan rasa simpatinya kepada orang-orang yang bergumul untuk menang.

"Aku menulis kepada kamu dengan hati yang cemas dan sesak," katanya, "dan enggan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua."7 "Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku ini, namun aku tidak menyesalkan . . . namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. . . . sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan bahwa tidak bersalah di dalam perkara itu. . . . Sebab itulah kami menjadi terhibur."8

"Aku bersukacita, sebab aku dapat menaruh kepercayaan kepada kamu" "Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu, semua selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucapkan syukur kepada Allahku karena persekutuan dalam berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Aku hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai akhirnya pada hari Kristus Yesus. Memang sudah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku. karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacita dan mahkota, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih." "Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu berdiri teguh di dalam Tuhan."9

Paulus menulis kepada saudara-saudara ini sebagai "orang-orang kudus di dalam Kristus Yesus," tetapi dia tidak menulis untuk mereka yang sudah sempurna tabiatnya. Dia menulis kepada mereka sebagai pria dan wanita yang bergumul melawan penggodaan dan yang berada dalam bahaya kejatuhan. Dia mengarahkan mereka kepada "Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya melengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya dan mengerjakan di dalam apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"10

Bilamana seorang yang bersalah menyadari kesalahannya, berhati-hatilah jangan merusak harga dirinya. Jangan kecewakan dia dengan ketidakacuhan atau ketidakpercayaan. Janganlah berkata, "Sebelum saya mempercayainya, saya akan tunggu untuk melihat apakah dia akan bertahan." Seringkali sikap tidak percaya seperti ini menyebabkan orang yang tergoda itu tersandung lagi.

Kita harus berusaha memahami kelemahan orang lain. Kita hanya mengetahui sedikit tentang ujian-ujian hati dari mereka yang sudah terbelenggu dengan rantai kegelapan dan yang kekurangan tekad dan kekuatan moral. Yang paling menyedihkan ialah kondisi orang yang sedang menderita di bawah penyesalan yang dalam; dia seperti seorang yang kebingungan, terhuyung-huyung dan terbenam ke dalam debu. Dia tidak dapat melihat apa-apa dengan jelas. Pikirannya kabur, dia tidak tahu langkah apa yang harus diambil. Banyak jiwa yang malang disalahmengerti, tidak dihargai, penuh dengan kesukaran dan penderitaan -- bagai seekor domba yang tersesat dan hilang. Dia tidak dapat menemukan Allah, namun dia mempunyai kerinduan yang dalam akan pengampunan dan kedamaian.

Oh, janganlah ada sepatah kata pun yang menambah rasa sakit! Kepada jiwa yang letih karena kehidupan dosa, tetapi tidak mengetahui di mana bisa mendapat kelepasan, perkenalkanlah Juruselamat yang berkasihan itu. Peganglah tangannya, angkatlah dia, katakanlah kepadanya kata-kata dorongan dan pengharapan. Tolonglah dia meraih tangan Juruselamat.

Terlalu mudah kita menjadi tawar hati terhadap jiwa-jiwa yang tidak segera menyambut usaha kita. Janganlah kita berhenti berusaha menyelamatkan satu jiwa selagi masih ada satu cahaya pengharapan. Jiwa-jiwa yang indah itu, yang telah dibayar oleh tebusan Penebus kita yang rela mengorbankan diri itu terlalu berharga untuk diserahkan dengan begitu saja kepada kuasa si penggoda.

Kita perlu menempatkan diri pada posisi orang-orang yang tergoda itu. Pikirkanlah tentang kekuatan sifat bawaan, pengaruh hubungan dan lingkungan yang jahat, dan kekuatan dari kebiasaan-kebiasaan yang salah. Herankah kita bahwa di bawah pengaruh-pengaruh yang demikian seseorang dapat merosot? Apakah kita merasa heran bahwa mereka pasti lamban menyambut usaha-usaha kita untuk mengangkat mereka?

Ketika dimenangkan kepada injil itu, seringkali orang-orang yang kelihatannya keras dan tidak memberi harapan akan terdapat di antara para pengikut dan pembela yang paling setia. Mereka tidak seluruhnya rusak. Di bawah sifat-sifat lahiriah masih ada gerak hati yang baik yang bisa dijangkau. Tanpa tangan yang menolong banyak orang yang tidak akan pernah bangkit lagi, tetapi dengan usaha yang sabar dan tidak mengenal lelah mereka akan bisa diangkat. Orang-orang seperti itu memerlukan kata-kata yang lemah lembut, perhatian yang baik, dan pertolongan yang nyata. Mereka membutuhkan nasihat seperti itu yang tidak akan memadamkan api semangat yang kecil pun di dalam jiwa. Biarlah para pekerja yang berhubungan dengan mereka memperhatikan hal ini.

Ada sebagian orang akan menemukan mereka yang derajat pikirannya sudah lama merosot, sehingga mereka dalam hidup ini tidak akan pernah menjadi lebih baik kalau pun berada dalam keadaan yang lebih nyaman. Tetapi sinar terang Matahari Kebenaran dapat menembus jiwa orang itu. Adalah kesempatan mereka untuk memiliki kehidupan yang sesuai dengan kehidupan Allah. Tanamkanlah dalam benak mereka pikiran-pikiran yang mengangkat dan mengagungkan. Biarlah hidupmu memperjelas kepada mereka perbedaan antara yang jahat dan yang murni, antara gelap dengan terang. Dalam keteladananmu biarlah mereka membaca apa artinya menjadi seorang Kristen. Kristus sanggup mengangkat orang yang paling berdosa dan menempatkan mereka di tempat di mana mereka akan diakui sebagai anak-anak Allah, pewaris-pewaris pusaka kekal bersama Kristus.


Dengan mukjizat rahmat ilahi, banyak orang akan dilayakkan untuk kehidupan yang bermanfaat. Karena dilecehkan dan direndahkan, mereka telah menjadi sangat kecewa; mereka mungkin tampak tabah dan tenang. Tetapi di bawah pelayanan Roh Kudus kebodohan yang membuat kelegaan mereka tampak begitu tidak berpengharapan akan berlalu. Pikiran yang tumpul dan gelap itu akan bangkit. Hamba dosa itu akan dibebaskan. Kejahatan akan lenyap dan kebodohan akan ditaklukkan. Melalui iman yang bekerja oleh kasih, hati akan disucikan dan pikiran diterangi.

No comments:

Post a Comment

Mohon Tinggalkan komentar saran, kritik, tambahan dan tanggapan anda, sebelum anda keluar dari blog ini dan terima kasih anda telah berkunjung.

Klik disini

Pages

Hubungi Kami

Name

Email *

Message *